catatan pinggir meja

/me·nan·ti/ (v)

(2014)

Tulisan ini, amatiran rindu yang digurui sepi

Narasi setengah jadi yang ditulis rindu

dengan tangan penuh mimpi

Pada lembar pertama yang bertanya kabar

mengantar perkenalan

Pada pigura kita pertama dengan kepalaku di sudut telingamu

Lewat basah yang disampaikan hujan

Lewat helai yang dibawa pucuk pucuk dahan

Apa kabar, tuan

sudahkah kita saling mengenal

Pada ikrar yang mulut ini ingin segera katakan

Janji Tuhan yang dibungkus indah lewat senyummu

Diisyaratkan senja yang kunikmati sendiri

Sampai kedua kita mulai menghitung hari

Kepada Namamu

Kepada namamu,

Aku tidak sangka akan memberi kabar di hari ini. Bahwa aku baik, sebaik yang kamu harapkan. Aku sehat, sesehat yang kamu doakan. Aku bahagia, lebih dari yang pernah kamu khawatirkan. Tidak di dua kalinya aku membuat kepalaku menjadi bianglala yang tidak berputar. Tidak di dua kalinya aku mengelilingi sumbu komedi putarku seorang diri. Kamu sendiri bagaimana? Aku bisa saja balik bertanya.

Aku dan kamu pernah cukup sebagai dua perahu yang sama sama mencari pelabuhan untuk tinggal. Sebuah pembuktian bahwa aku tidak akan kemana dan bahwa salah satu kita masih digenggam Tuhan dalam tanganNya. Katamu, tangan Tuhan tidak akan pernah jauh untuk menjagaku dan kamu tetap utuh; karenanya namamu menjadi penutup doaku. Kala itu.

Berdua kita boleh bangga karena merelakan adalah perkara mudah. Sebab yang disebut janji hanya duri yang menyakiti dahannya sendiri. Tidak nampak sedang melindungi kelopaknya, malah menghabisi daun daun hingga gugur terlalu dini. Sebab aku pernah meyakini tidak pernah ada selamanya, persis seperti tidak pernah ada masa yang selalu sama.

Lalu boleh saja kamu pecahkan sekarang, bahwa tangan Tuhan menggenggam seluruh galaksi. Aku bisa saja ada di bumi manapun. Pun sama halnya denganmu. Sampai disini dugaan kita benar. Pembuktian kita tidak sia sia.

Terima kasih atas basa basi yang telah dihidangkan. Aku mencicipi appetizer yang belum pernah sama sejak beranda tawa kita dibuat ramai oleh banyak orang. Terima kasih atas pertemuan pertemuan yang belum pernah kita datangi, tapi telah kita amini.

Semoga kamu sehat, dan sampaikan salamku padanya, yang dipanggil dengan namamu juga.

Untuk Hari Ini

Teruntuk aku,

Kupikir aku bisa memberimu kejutan dengan mengirimimu surat, tapi aku rasa kamu sudah tahu karena bagaimanapun kamu juga yang menulisnya. Walaupun begitu, selamat. Selamat mendapat surat dari dirimu. Aku sudah mengingat ingat kapan terakhir kamu dapat surat, selain surel kerjaan dan promosi belanjaan, dan hasilnya… aku mengantuk. Entah sudah lama sekali mungkin saat tugas bahasa Indonesia sekolah dasar.

Surat ini aku tulis dua hari sebelum hari ini, jadi kuharap kamu sudah agak sedikit lupa. Agar lebih meyakinkan, coba bersandarlah pada tempat dimana saat ini kamu duduk, lalu perhatikan kalimat berikut baik baik,

dan setelah membaca beberapa kata berikut

kamu akan melupakan apa yang pernah kamu tulis dalam surat ini

tepat setelah hitungan ketiga

satu, dua, tiga.

. . . .

Hai.

Apa kabar diriku?

Sudah tiga hari berturut turut aku kehujanan, tetapi aku tidak takut kamu flu. Tebakanku pasti benar, bahwa saat ini hidung atau kepalamu baik baik saja. Dari kecil musim flu memang jarang sekali ngefek di badan, yang akhirnya jadi sebab mengurangi kekompakan dalam ekosistem. Aku dan kamu dianggap kebal penyakit. Padahal mereka tidak tahu, aku pernah merasakan sakit yang teramat. Kamu juga. Sakit perut. Kamu ingat?

Saat itu rasanya sudah dekat sekali dengan kematian. Walaupun tidak sopan menyebut nama Tuhan dalam toilet, tapi tetap kamu lakukan juga. Sambil meremas remas perut, tanpa tahu ada efeknya tidak, keringat sebesar buah anggur mulai bercucuran. 5 menit… 10 menit… 15 menit… Rasanya sudah seperti tahunan saja. Sejenak persoalan aku lupakan. Kamu juga pasti sama. Bagaimana mau mengingat persoalan, mengingat salah makan apa saja aku dan kamu tidak bisa. Akhirnya persoalan kecil tentang pentingnya mengingat ingat itu harus kita ingat sebelum hal hal seperti ini terjadi. Namun, bila berhasil mengingatnya pun, aku tidak tahu apa gunanya kemudian di dalam toilet. Mengutuki makanan yang sudah masuk perut? Pantas saja mereka berkecamuk. Pasti karena tak tahan diberi kutukan. Ini lingkarang setan. Seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Karena kabarmu baik baik saja, aku bersyukur. Paling tidak apa yang kumakan atau kulakukan setelah menulis ini, tidak membuat diri sendiri sakit. Maksudku berkirim surat sebenarnya untuk memastikan itu. Juga sedikit ingin tahu tentang bagaimana masa depanku. Benarkah tidak ada lonjakan drastis seperti jarum angka di timbangan berat badan. Jarum yang selalu bikin aku dan kamu senewen, entah sampai pada kamu di waktu yang mana. Sudahlah jangan khawatir, banyak perempuan yang ingin kurus sampai harus diet mati matian. Sedangkan kamu cuma butuh jutaan semangat untuk kembali olahraga.

Maaf ya, sampai hari ini aku malas sekali olahraga. Lagipula ban sepeda gembos depan belakang, dan kalau sore lebih sering hujan. Jadi kuserahkan tugas mulia ini padamu. Jangan melulu menghabiskan waktu di depan buku, kertas gambar atau clash of clan mu. (kamu pasti sudah upgrade di town hall level 7. Yey!)

Hal yang paling penting baru akan aku tulis disini. Jadilah dirimu sendiri, karena aku hanya dirimu di masaku. Masa lalumu. Semoga kamu dan kamu kamu yang lain di masa depan menjadi lebih baik sebaik virus influenza yang jarang sekali sudi hinggap di tubuh kita. Sehat sehatlah, aku.

Selamat tinggal,

Kamu.

*KBGN

:01.17

Anak lelaki Aphrodite berjingkat menemuiku diam diam. Dengan kasar mencabut kembali panahnya, meninggalkan luka yang menganga di hati dan kepala yang tak kasat mata. Selanjutnya aku terbangun dengan mimpi paling buruk; sebuah kemudi komedi putar lepas dari engselnya, menghantamku keras hingga aku terlempar mencium tanah.

Aku melirik jam dinding yang bersikeras menunjukan masih di tengah malam, lalu kembali tidur dengan firasat yang enggan aku iyakan; perasaan buruk adalah bencana kecil hati manusia.

Semoga benar hanya Cupid yang tidak sopan dan plin plan. Bukan kamu atau hatiku yang jadi korban.

Firasat

Sekali dua kali angin benar-benar hanya meniupkan udara; campuran oksigen dan teman dekatnya di tabel periodik kimia, bukan namamu. Namun, aku yakin mereka kadang meniupkannya di kali ketiga, keempat, atau lima di ujung telingaku. Hanya saja aku tidak lagi dengar. Seolah benar sesuatu ini bisa berbisik, tidak sekedar meniup sepoi. Tentang apa yang alam hendak katakan, aku pernah bertanya, tapi koloni rumput ini tidak tahu, sekalipun aku lihat mereka bergoyang tidak henti. Ketika para penyair memaksa syairnya untuk menuliskan angin sebagai pembawa pesan, yang aku rasakan kali ini mereka membawa ribuan debu, dimana beberapa butir memilih berhenti di sudut mataku.

Sekali dua kali awan benar-benar membentuk awan, gumpalan permen kapas manis yang dijilat jilat malaikat, bukan wajahmu. Namun, aku yakin sesuatu itu benar benar pernah menyerupai bentuk hidung, jidat atau dagu yang mirip kamu. Hanya saja aku tidak sedang mendongak ke atas melihat lihat. Tentang apa yang dilukiskan pada langit, pun burung tidak mampu membaca. Lagipula sejak kapan burung bisa membaca. Aku sudah tidak paham dengan para penulis puisi ketika mereka menulismu sedang duduk di atas awan. Aku sangat khawatir. Kamu tentu perlu parasut biar tidak jatuh.

Sekali dua kali bulan sabit benar benar hanya melengkungkan bentuk bumi. Tahu kan, bulan sabit terbentuk karena posisi bumi yang menghalagi sebagian cahaya matahari ke bulan. Iya, dan bukan senyummu. Namun, yah, aku rasa senyummu kadang memang secantik itu. Aku pernah memandangnya lama dan bulan tersenyum balik padaku, hingga awan cemburu dan menyelimuti seluruh pendarnya. Kalau pelukis menambah bola mata cantik di atas senyum bulan, kadangkala akupun mengangguk angguk setuju.

Ketika banyak yang memetaforakan alam, mensubsitusikan dengan kehadiranmu, disitulah rasanya benar bahwa rindu sesakit itu. Sakit yang hanya didiagnosa dokter sebagai kurang makan dan tidur, atau terlalu banyak makan dan tidur. Residu atas reaksi pertemuan dua senyawa yang memiliki chemistry nya sendiri. Akibat dari hati turun ke hati, mengendap lama sebelum pergi mencuri hati lagi. Ketika rindu yang seperti itu akhirnya mendatangi, aku mungkin setuju pada semua penyair ini. Tapi tetap, aku masih perlu parasut. Sekedar jaga-jaga. 

Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra, kutahu pasti kemanakan ku bermuara. Semoga ada waktu..

Sayangku, kupercaya alampun berbahasa. Ada makna dibalik semua pertanda. Rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduliku terus berlari…

(Firasat – Dee Lestari)

Thank you, Gilang~

Awal Mula

DiciptakanNya satu ruang di kepala, dimana kesenangan dan kesakitan bercampur satu atap, tidur bersama seperti satu keluarga. Tempat bagaimana kita menerjemahkan cinta yang menjelmakan rupa menjadi bahasa yang dibaca tanpa koma, melupakan pentingnya membunuh bakteri dalam suhu didih sembilan puluh sembilan koma sekian derajat, lalu ditelan mentah mentah. Saat itu gravitasi telah menipu respon syaraf hingga menjadikan jatuh yang dinikmati otak dan hati saja.

Muncul akhirnya, satu rasa yang diberi definisi sejuta arti lengkap dengan metafora dan diksi. Sebuah ingin yang menyebut dirinya mimpi, yang berkuasa akan hati, menancapkan bendera jajahan di amygdala terlalu dini. Kemudian banyak dari kita tertawa tawa, bercanda membawa rindu ikut serta. Sedang tetap di masing masing mereka, rasa sakitnya seperti tertusuk jarum di bantalan kursi, dua atau tiga. Karena entah hubungan apa secara biologis juga medis antara pantat dan kepala.

Cuaca hari itu menawarkan diri menjadi saksi. Tentang kabar yang tak sempat dijelaskan lewat hujan yang memendam dendam pada malam paling sunyi. Duduklah di bawah atapmu sambil menerka sedikit apa yang dirahasiakan oleh waktu. Karena kali ini bukan tentang tiba-tiba yang mengetuk tidak sopan, dan benar bila waktu telah berbaik hati, mendekatkan kita berkali kali.

Emosi telah menjadikan sistem limbik ini aktif, hingga mengesampingkan kortex serebri yang mengawal kerasionalan mengambil sebagian tahta di kepala. Bahwa tubuhmu, bicaramu, diammu sudah menjejali hipotalamus otakku. Memaksaku memperhatikan semua gerak dan ucap, merekam tiap pertemuan mata dengan mata. Hingga di lingkaran ini, garis imajiner yang kubangun sendiri, hanya kamu yang berdiri di sana.

Watchlist

Pagi ini setelah buka kulkas dan mendapati isinya yang nggak berubah sejak semalam, saya kepikiran untuk nulis list film apa aja yang sudah diliat. Cuma biar blog ini terlihat apdet tiap beberapa harinya. Terima kasih kulkas. Sekali lagi benda ini membuktikan slogan terkenal when in doubt, open the fridge.

Kalimat di atas ditulis sebagai preambule atas apa yang akan dibaca setelah ini demi mengurangi probabilitas makbedunduk yang bahkan susah untuk disubstitusikan dengan satu kata lain dalam bahasa Indonesia. Bahwa ada deretan angka setelah judul hanya akan mengingatkan pada soal ujian essay atau daftar belanjaan.

Seperti yang sudah sudah, saya cuma nonton film di dua ketika, yaitu ketika saya nggak sibuk dan pinter pinternya saya cari waktu ketika sibuk. Hal ini masih merupakan media alternatif favorit sebagai pelarian diri yang kemudian disusul oleh tidur dan mimpi indah. Sebut saja Watchlist, Yang Dicoret Dari Sana. 

2015

Januari

  1. Night at The Museum: Secret of The Tombs (2014)
  2. The Hobbit: The Battle of The Five Armies (2014)
  3. Penguins of Madagascar (2014)
  4. Marmut Merah Jambu (2014)
  5. Gone Girl (2014)
  6. Predestination (2014)
  7. Stand By Me, Doraemon (2014)
  8. PK (2014)
  9. Big Hero 6 (2014)
  10. The Imitation Game (2014)
  11. A Walk Among The Tombstones (2014)
  12. Moon (2009)
  13. Blackhat (2015)
  14. I, Origins (2014)
  15. Zodiac (2007)
  16. Boyhood (2014)
  17. Comic 8 (2014)
  18. John Wick (2014)
  19. Fight Club (1999)
  20. Battle Ship (2012)
  21. Looper (2012)
  22. Pompeii (2014)
  23. Into The Woods (2014)

Februari

  1. Vice (2015)
  2. Nightcrawler (2014)
  3. Tak3n (2014)
  4. Horns (2014)
  5. 22 Jump Street (2014)
  6. Noah (2014)
  7. Jupiter Ascending (2015)
  8. Justice League: The Flashpoint Paradox (2013)
  9. The Grand Budapest Hotel (2014)
  10. Dragonheart 3: The Sorcerers Curse (2015)

Maret

  1. Hercules Reborn (2014)
  2. Love, Rosie (2014)
  3. Fifty Shades of Grey (2015)
  4. Charlie St. Cloud (2010)
  5. Up In The Air (2009)
  6. Exodus: Gods And Kings (2014)
  7. Whiplash (2014)
  8. Interstellar (2014)
  9. The Theory of Everything (2014)
  10. I, Robot (2004)
  11. The Thieves (2012)

April

  1. Seventh Son (2014)
  2. The Mist (2007)
  3. Paddington (2014)
  4. Justice League: The Throne of Atlantis (2015)
  5. Justice League: War (2014)
  6. Batman vs Robin (2015)
  7. The Woman In Black 2: Angel of Death (2014)
  8. The Voices (2014)
  9. My PS Partner (2012)
  10. Confession (2014)
  11. Justice League: Trapped In Time (2014)
  12. Son of Batman (2014)
  13. The Avengers: Age of Ultron (2015)

Mei

  1. What If (2013)
  2. Beauty and The Beast (2014)
  3. Windstruck (2004)
  4. Brick Mansion (2014)
  5. Mad Max: Fury Road (2015)
  6. The Book of Life (2014)
  7. Fast and Furious 7 (2015)
  8. RoboCop (2014)
  9. Project Almanac (2014)

Juni

  1. Chappie (2015)
  2. Home (2015)
  3. Kingsman: The Secret Service (2014)
  4. Time Lapse (2014)
  5. Jurrasic World (2015)
  6. Daredevil (2003)
  7. Madre (2013)
  8. The Butterfly Effect 2 (2006)
  9. The Butterfly Effect 3: Revelation (2009)
  10. Cinderella (2015)
  11. Frequencies (2013)
  12. Hours (2013)
  13. Run All Night (2015)
  14. Saint Seiya: Legend of Sanctuary (2014)
  15. The Spongebob Movie: Spong Out of Water (2015)
  16. Minions (2015)

Juli

  1. Ant-Man (2015)
  2. Insurgent (2015)
  3. The Italian Jobs (2003)
  4. The Two Faces of January (2014)

Agustus

  1. Oz The Great and Powerful (2013)
  2. Descendants (2015)
  3. Transcendence (2014)

September

  1. Fantastic Four (2015)
  2. Tomorrowland (2015)
  3. Inside Out (2015)

Oktober

  1. Paper Towns (2015)
  2. Pixel (2015)
  3. The Billionaire (2011)
  4. Knock Knock (2015)
  5. Me and Earl and The Dying Girl (2015)
  6. The Curious Case of Benjamin Button (2008)
  7. The Girl With The Dragon Tattoo (2011)
  8. Mr. Holmes (2015)
  9. Asterix: The Mansion of the Gods (2014)
  10. Robot Overlords (2014)

November

  1. Colombiana (2011)
  2. Maze Runner: Scorch Trial (2015)
  3. Mission Impossible: Rogue Nation (2015)
  4. Lupin III (2014)
  5. Hitman Agent 47 (2015)
  6. The Transporter Refueled (2015)
  7. The Little Prince (2015)

Desember

  1. Hotel Transylvania 2 (2015)
  2. Star Wars Episode IV: A New Hope (1977)
  3. Star Wars Episode VII: The Force Awakens (2015)

2016

Januari

  1. Pan (2015)
  2. Goosebumps (2015)
  3. The Martian (2015)
  4. The Walk (2015)
  5. Spectre (2015)
  6. Batman: Bad Blood (2016)
  7. Teacher’s Diary (2014)
  8. The Art of Steal (2013)

Februari

  1. Deadpool (2016)
  2. Selfless (2015)
  3. In The Heart of The Sea (2015)
  4. Victor Frankenstein (2015)

Maret

  1. The Revenant (2015)
  2. Everest (2015)
  3. The Survivalist (2015)
  4. Daddy’s Home (2015)
  5. Pay The Ghost (2015)
  6. Pride and Prejudice and Zombies (2015)
  7. 5th Wave (2015)

April

  1. Ada Apa dengan Cinta 2 (2016)

Mei

  1. Captain America: Civil War (2016)
  2. X-Men: Apocalypse (2016)
  3. Gods of Egypt (2016)
  4. The Huntsman: Winter’s War (2016)
  5. Warcraft: The Beginning (2016)

Juni

  1. Escape Plan (2013)
  2. London Has Fallen (2016)
  3. Allegiant Part 1 (2016)
  4. The Angry Bird Movie (2016)

Juli

  1. Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2) (2016)

Agustus

  1. Suicide Squad (2016)
  2. The Jungle Book (2016)
  3. Now You See Me 2 (2016)

September

  1. Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Out of The Shadows (2016)
  2. Warkop DKI Reborn (2016)

Oktober

  1. Alice Trough The Looking Glass (2016)
  2. Finding Dory (2016)
  3. Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)
  4. Underwold – Blood War (2016)

November

  1. Inferno (2016)

Desember

  1. Langit Terbelah di Benua Amerika 2 (2016)
  2. Snowden (2016)
  3. Train to Busan (2016)

2017

Januari

  1. My Annoying Brother (2016)
  2. Ben-Hur (2016)
  3. May Who (2015)
  4. Miss Peregine’s Home for Peculiar Children (2016)
  5. The Passenger (2016)
  6. One Way Trip (2016)
  7. The Girl with All The Gifts (2016)
  8. Jack Reacher Never Go Back (2016)
  9. Who Am I (2014)
  10. Resident Evil – Final Chapter (2017)

 

 

 

 

Draft Satu

Sandaran kursimu bekas keringat, sekarang basah karena rambutmu habis keramas. Di sudut meja, kopi dingin lupa disentuh. Meraciknya adalah keharusan sedang lupa meminumnya itu manusiawi, katamu. Di sebelahnya, bungkus snack kesukaanku tegeletak lemas berisi sisa remah-remah dan udara. Kepalamu miring ke kiri. Katamu begitu biar isi otak kananmu dicerna baik di otak kiri. Hingga perpaduannya bisa keluar lewat jari-jari yang menari.

Pemutar lagu digital yang menyalak di headset telinga kanan. Hanya sebelah dan malas kau pusingkan. Biar saja telingan kiri terjaga bila ada seseorang yang mengetuk pintu, atau sesuatu yang merayap di balik bahu. Sengaja dipilih lagu yang benar-benar menyalak seperti anjing menyapa tamu majikan. Tidak peduli apa liriknya, karena kutebak, kamu sedang menulis syairnya. Mencoba menulis katamu. Dengan waktu sebagai satu satunya guru.

Diam diam kau jatuh cinta pada suara keyboard usang saat menjadi alas jari-jarimu. Tombol backspace di atas kanan itu mata kuncinya. Tentang apa yang sudah hampir ditulis lalu dihapus -nyariskeeksisannya. Jari jari seperti ibu yang mengandung. Sedang kata-katamu adalah janin dengan tanda baca sebagai nyawanya. Melayang dan terjun bebas di atas keyboard. Menjejak satu haruf menjadi kata, kata dengan spasi menjadi kalimat lalu paragraf. Sepersekian detik terlintas ragu, lalu urung. Jari telunjuk mengapung tepat di atas backspace lagi, lalu urung. Begitu terus sampai pundakmu lelah.

Tepat setengah jam sebelum tengah malam, sebuah file disimpan dengan nama yang lagi lagi sama: Draft Satu.docx

Nanti Saja

Aku ingin mengecat merah pintu rumah. Di samping tembok dan lantainya yang putih bersih, kupikir kamu pun akan setuju. Lalu aku gantungkan pot dengan tanaman rambat yang berdaun kecil tapi selalu hijau, yang punya sulur sepanjang tangan, yang berbunga merah muda kecil berkelopak lucu. Nanti saja aku cari namanya. Di sebelah pintu merah nanti, aku gantungkan nomor rumah besar besar. Sebuah talenan kayu yang akan kugambari dengan corat coret bunga berbentuk angka. Kalaupun memang tidak terlalu terbaca, biar. Yang penting aku suka. Kupikir kamu juga suka.

Aku ingin menggantung beberapa frame segi empat asimetris di bordes tangga. Kamu boleh memilih foto mana yang akan punya tahtanya di sana. Aku ingin tersenyum sebentar setiap kali lewat dan melihat gambar gambar lawas yang tergantung nanti. Memikirkan lagi lucu lucunya kita saat sebelum selucu ini. Mengingat ingat lagi lucu lucu apa yang sudah kita lakukan dan akankah kita ulang atau tidak. Kamu boleh memilih warna anak tangganya. Ingin secoklat kayu atau abu abu batu. Alih alih railing, aku ingin membuat rak di sisi pegangannya. Buku bukumu dan milikku harus punya tempat sedikit istimewa.

Aku ingin sofa besar warna jingga, atau ungu, atau tosca. Lalu bantu aku membetulkan lipatan korden warna senada di jendela kaca di belakangnya. Kita bisa berlama lama membaca, melihat berita, bertukar cerita, apupun sambil tertawa tawa berdua, atau bertiga, berempat, berlima. Sebut saja ruang keluarga atau ruang makan atau ruang seterika atau ruang tidur siang. Aku pikir kamu pun akan suka tanpa peduli apa namanya.

Itu dulu saja. Sepakat tidak?

Awan. ber·a·wan: diliputi awan

Tidak pernah saya biasa saja waktu menatap awan. Sesuatu yang minimal ada di ketinggian 2000 meter, tapi terlihat seperti menggantung di depan muka. Sungguh Tuhan Maha Random dengan segala keindahanNya. Menciptakan air sebagai sumber hidup yang dibekukan dalam wujud kristal kristal cantik dan diutusNya membentuk beberapa koloni yang menggantung di atmosfer.

Pada saat cuaca cerah, mentari sumringah membagi sinarnya dalam jutaan spektrum warna. Atmosfer kewalahan dengan kuatnya gelombang kebiruan, hingga lantas menelan seluruhnya. Kemudian langit terlihat berwarna sama. Dengan gagahnya bergumpal gumpal awan dalam koloni besar dan kecil membentuk siluet hewan, benda mati hingga rupa kekasih. Berjajar jajar, bertumpuk tumpuk, saling tindih, melayang, pecah dan tersenyum. Lebih tepatnya memantulkan senyum bumi, yang bertahun tahun mencintainya diam diam. Hanya mampu memandang dari kejauhan, tanpa tahu bahwa awan memiliki perasaan yang sama. Dipeluknya bumi siang dan malam, tidak rela kulitnya dibakar matahari yang kadang kadang kejam. Awan dan bumi adalah dua dari ratus ribuan yang patuhnya dipuji Tuhan. Cinta keduanya berbalas dengan air mata yang disebut manusia hujan. Kalau sudah menangis, bumi membelai wajah awan dengan uap uap air sungai dan lautnya. Hingga sampai kapanpun keduanya tidak merasa telah dipisahkan pencipta mereka.

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya… (An Nuur: 43)

Saya bisa berjam jam memanjakan mata dengan melihat awan. Entah ia yang cantik karena langit atau sebaliknya. Bumi mengenal langit sebagai nampan segala gas dan udara, ibu dan rumah bagi troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, ionosfer, dan eksosfer. Namun, awan menceritakan bahwa langit adalah kanvas tak bertepi, tempat Tuhan melukis dan menulis. Yang mengagumkan dari persinggungan otak kiri dan kanan adalah bahwa manusia mengiyakan keduanya. Walau sebagian bersikeras menyebut langit sebagai atap rumah mereka dan tempat menggantung angan bagi sebagian yang lain.

Tuhan Yang Maha Sibuk melukisnya setiap jam, setiap hari. Dari warna pekat, putih, kebiruan, merah muda, jingga hingga kembali temaram. Atas dasar itu, semua pengaduk warna di kanvas mereka masing masing, yakin bahwa hijau dan semua warna daun pohon tidak akan minder berdamping dengan seluruh warna langit. Pohon pohon berdiri tegak, menjulang pongah dengan kaki yang mengakar di tanah, enggan beranjak. Mahkotanya disisir angin dalam background langit di segala cuaca.

Awan yang baik hati. Kali ini saya memandangi koloni besar di atas saya berdiri. Apa yang sedang gumpalan kapas itu lakukan. Apakah upacara penghormatan pada langit yang lagi lagi sedang dilukis, atau saling bergosip dan membuang buang senyum pada bumi mereka yang tampan ini. Awan awan yang baik hati. Walaupun rupanya bumi juga mencintai matahari, tidak berkeberatan saling berbagi.