Ngomongin Film

by astridirma

Kemarin saya nonton juga Kambingjantan dan saya lupa kapan terakhir saya bisa ontime ga telat nonton film (telat 20 menit). Temen” saya yang sudah nonton duluan, menyarakan biar ga usah aja nonton film itu, rugi katanya. Jelek kaya sinetron dan ga selucu yang di novel. Sama seperti ketika lagi booming”nya Ayat-ayat Cinta atau Laskar Pelangi, rata” semua bilang ..ga sebagus novelnya. Walaupun begitu kenapa saya nonton juga? Well, biar saja orang dengan pendapat mereka masing” dan saya punya sendiri yang ga se-menohok mereka tentu saja. Buat saya si, ga adil kalau kita langsung menjugde suatu karya itu jelek mentah”, apalagi melupakan sama sekali tentang hal” yang menarik dan adegan paling bagus disana.
Mungkin sudah sifat saya, selalu melihat sisi baik sesuatu (terutama seseorang) dari sudut pandang saya sendiri walaupun kenyataan berkata lain dan walaupun akhirnya saya sering salah menilai. Ya, kadang… baik dan bodoh itu dekat sekali.

.
Kebanyakan saya memang tidak tertarik dengan film negeri sendiri. Bukan berarti mau sok” an biar dibilang keren karena liat film barat melulu, tapi memang film Indonesia yang selalu tidak bisa lepas dari sinetron dan horor itu bukan genre film yang saya suka.
(Bukan berarti sama sekali ga ada film dalam negeri yang bagus dan buat saya, Catatan Akhir Sekolah, Janji Joni dan Jomblo adalah contoh yang berhasil).
Lalu kenapa saya nonton Kambingjantan, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi? Ya, karena saya suka novelnya, ditambah saya suka Fedi Nuril sama Raditya Dika.

nuril

dika1

Jangan dibandingkan kegantengannya. Iya, tolong jangan.

Jadi, boleh dibilang saya subyektif dan skeptis sekali. Hehee…
Dan ketika orang-orang puas menghakimi sutradara masing” film itu, saya menyimpan sendiri potongan” yang menarik bahkan yang terbaik yang sering orang” lupakan karena terlanjur sebel karena rugi nonton filmnya. (Salah sendiri, uda tau film Indonesia emang gitu, tetep pergi nonton juga). Misalnya Ayat-ayat Cinta, FYI saya pingin nonton ini karena suka sama novelnya dan saya baca novelnya karena tau filmnya diperanin sama Fedi Nuril :lol: ehee. Jadi, di film ini saya lebih fokus melihat akting Nuril, yang menurut saya lebih menarik daripada di Garasi dan Mengejar Matahari. Potongan yang saya suka waktu itu salah satunya waktu Fahri (Nuril.red) berusaha sholat di penjara Mesir dan sama sekali ga bisa kyusu karena belum selesai dia di fitnah, tiba” datang surat dari universitas yang menyatakan bahwa dirinya dikeluarkan. Dilihat berkali-kali saya suka adegan itu. Atau pada Laskar Pelangi yang justru peran utama diperankan oleh anak-anak melayu asli yang sama sekali belum pernah bertatapan dengan video recorder, polos.

.
Dan sedikit review saya tentang film yang saya lihat kemarin, Radith berakting lebih baik daripada Herviza Noviati – lawan mainnya yang memang aktris. Memang saya sedikit kecewa karena potongan” adegan yang ada di trailer filmnya sama sekali tidak menggambarkan kejadian keseluruhan dan ini adalah film komedi paling muram yang pernah saya lihat. Namun, soundtrack dan sound effect nya pas sekali, ga kurang dan ga berlebihan. Sampai sekarang saya belum bosen dengerin Selamanya dan Adelaide Sky. Cerita yang membuat saya tersenyum sendiri di sudut bioskop (kursi saya memang dipojok, maksudnya) itu ketika Radith memutuskan pergi ke Melbourne alih” pulang ke tanah air demi ulang tahun pacarnya. Ini cerita yang sama di Cinta Brontosaurus, ketika dia terpaksa duduk disebelah orang-yang-banyak-memakan-tempat dan sepanjang perjalanan ia menulis sesuatu – yang hanya saya ingat ketika membacanya, saya jadi terharu (adegan ini ga ada di film). Juga kalimat yang dia ucapkan pada Kebo, ‘… tadi di pesawat ak ga sempat minum. Aku numpahin gelas tiga kali… aku berantakan kalo ga ada kamu…’. No comment, yang jelas saya suka.
Kalau boleh saya bilang, di film itu Radit bukan cuma memerankan diri sendiri dengan cerita yang memang pernah terjadi, tetapi seorang Raditya Dika yang asli memang seperti yang ia perankan disana – polos, pintar, spontan, tidak bisa ditebak.

.
Yah, saya cenderung suka dengan pribadinya yang menghibur (walaupun komersial), saya tetap suka baca novelnya walaupun kadang sudah ga lucu, saya tetap tertawa mendengar materi stand up nya walaupun sudah pernah saya dengar. Saya tetap baca blog nya walaupun sekarang cenderung menjadi Raditya Dika dan hal sibuk lainnya. Semua itu bukan karena ngefans atau apa, tapi cerita orang yang sukses dari bawah seperti dia, kadang perlu diperhatikan dan mengambil hal” yang baik untuk dimanfaatkan kan ga salah…

Advertisements