Wisata Angkot, Berkarya di Bandung – Jogja

by astridirma

(diketik sambil liat sinetron Lian Firman)

.

Bandung yang selama 20 tahun belum pernah saya sambangi, akhirnya kesampaian juga pergi kesana. Modal ikut-ikutan yang walau sempet ragu mau ikut atau enggak, kalah juga sama mupeng. :p

(21/7) Setelah perjalanan panjang 13 jam di kereta ekonomi Kahuripan dengan bekson nonstop ‘kua kua mijon sprit fanta…!‘ sampe juga di stasiun….umm…apalah itu namanya. Ternyata Bandung panas juga. Mulailah dari situ wisata angkot dimulai. Tujuan pertama Gasibu, Gedung Sate lewat juga Museum Geologi. Orang kampung gak pernah liat kota, poto-potolah kita di jalan raya (yahoo)

.

gedung sate

Gedung Sate. Arsitek: Ir. J. Gerber dan tim. Photo by: Fuad

.

museum-geologi

Museum Geologi. Arsitek: Ir. Menalda van Schouwenburg, Sumber: http://google.com

.

Setelah sarapan (yang katanya masakan khas sunda itu) kita menentukan tujuan kedua. Iya, baru mau ditentukan. Ternyata si ketua suku juga masi plan less.. diputuskanlah (dalam 5 menit) buat lanjut ke Maribaya. Maribaya itu apa? Katanya ada gua sama air terjun disana.. deket kota kaya gini? Ayuklah. Majulah si tour-guide-hopefully (TGH) kita buat nyegat, tanya dan nawar angkot (ini SOP dy). On the way angkot lewat Dago (yang paling mupeng adalah tante) tapi karena masi siang… jadi ya..gitu. Bye bye Dago.. I’ll meet U soon. (bye)

.

maribaya

Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda. Photo by: timer

.

First impression masuk disana, ‘gile.. Solo aja harus ke TW dulu baru nemu yang kaya ginian..’. Sebelum ini kita bertujuh belum merasa harus bawa kaki kuda cadangan. Later, kita baru ngerti hikmah dari jalan 10km (katanya) yang adalah……adalah…..  (duh) oke, pokoknya setelah masuk Gua Belanda yang bikin parno itu, sampailah kita di air terjun yang dibicarakan itu tepat dibawah jembatan merah. Jembaatan meraahh..jeng..jeng..

.gua belanda

Gua Belanda. Selain ini ada Gua Jepang.. mungkin juga negara lain (lupa) gak tau maksudnya apa. Photo by: Timer

.

jembatan merah

as

Maribaya. Photo by: Fuad

Gak tinggi, tapi oke buat bunuh diri. (y)

.

Tujuan ketiga sekaligus tujuan utama adalah Boscha, setelah TGH nawar2 ke abang2 sopir angkot, perjalanan selanjutnya adalah Lembang. Oh Boscha we’re coming..

Jadi inget Petualangan Sherina, cocok banget ada yang bawa choklat cha cha, disana kita jadi tau dulu itu Sherina sama Sadam masuk lewat pintu mana terus kabur lewat jendela mana.. wow sungguh historis sekali. Apalagi langit terlihat bersahabat, pasti bintang-bintang juga lagi oke diliat dari teropong Boscha. Wuih siipp.

boscha

Observatorium Boscha. Arsitek: KCPW Schoemaker. Photo by: Timer

.

Sayangnya harus saya tulis disini, dengan bercucuran air mata, bahwa kita gak bisa masuk Observatorium Boscha itu. Uda tutup. Apalagi jadwal malem gak tiap hari, cuma ada di bulan-bulan tertentu. (berkaca2)

Menjelang maghrib kita sudah ada di emperan toko Cihampelas. Tampilan otlet2 distro disana emang oke, gak salah kalau Bandung jadi centre of mode, tercermin dari in-eks tokonya. Disitu saya celinguk2 nyari Cihampelas Walk, bukan karena sering ada di tivi.. tapi karena saya sering liat itu di tivi. Ternyata tempat itu belum sepenuhnya selesai. Saya jadi mupeng kesana lagi, waktu malem dan gak terburu-buru kaya kemarin. Iya, jadi ceritanya Ketua Suku memutuskan kita gak jadi nginep di Bandung karena… gak tau mau nginep dimana (doh) . Oleh karena itu, kita jadi harus ngejar kereta terakhir yang berangkat pukul 20.00 waktu Bandung. Setelah beli peuyeum tanpa ditawar, kita naik angkot dan menikmati Bandung in the nite di dalem angkot. Saya yang paling gak bisa anteng. Si angkot lewat jalan setiabudi yang berderet-deret sekolah-sekolah dan kampus disana, lewat jalan Asia Afrika dan akhirnya saya bisa melihatnya, Gedung Asia afrika, Gedung Merdeka itu

asia afrika

Jl. Asia Afrika. Photo by: Fuad

gedungmerdeka

Gedung Merdeka. Arsitek:  Van Gallen last dan C.P. Wolff Shoemaker. Sumber: http://google.com

Sayang, gak sempat foto disana (tears)

.

Angkot terus melaju, ditengah itu saya melihat pilar2 tinggi. Setelah mikir beberapa menit, hia.. itu kan Mesjid Agung Bandung… kenapa keretanya berangkat jam 8 sii… (cry)

masjid-agung-bandung

Masjid Agung Bandung. Arsitek: Maclaine Port

sumber; http://google.com

.

Tapi gpp, something looks great when it seen far away (menghibur diri)

Setelah itu saya puas-puasin menikmati Bandung di waktu malam, menikmati lampu jalan dan eksterior kota. Belum tau kapan kesini lagi (cozy)

(sinetronnya abis. Masih diketik sambil nonton gosip siang)

Kereta berangkat dari stasiun jam setengah sepuluh, iya setengah sepuluh, sudahlah. Belum juga kereta mulai jalan, sebagian besar dari kita sudah tertidur puless (sleeping) dipimpin oleh Ketua Suku, sang penidur tiga detik (ini yang bilang anak buahnya sendiri lo)

.

(22/7) Tau-tau kita uda nyampe Kutoarjo aja, setelah sholat subuh dan ganti kereta Prameks, jam 7 WIB kita mendarat di Jogja. Ya, jadi ceritanya karena belum belanja apa-apa kecuali peuyeum-tanpa-ditawar itu, setelah permusyawaratah yang dipimpin oleh kebijaksanaan oleh kerakyatan perwakilan, kita sepakat belanja di Malioboro dan Pasar Bringharjo.  (worship) yah.. begitulah hidup, saudaraku.

Sepertinya kaki ini menolak untuk teraniaya lagi. Namun, apalah dikata, masa mau naek becak, gak asik banget. Jalanlah kita ke Pasar Bringharjo (yang masih tutup) ini jam tujuh pagi ya, sodara2.. jadilah kita sarapan di depan Hotel Mutiara.

.

Uda deket, tanggung kalau gak mampir ke Taman Pintar dan Soping sekalian. Kebetulan ada demo mahasiswa di kilometer nol, tidak mengurungkan niat si fotografer (baca: yang bawa2 kamera. Ga mau fotoin karena pengen eksis juga) untuk terus berkarya. Hidup mahasiwa! (rock)

km0

Berkarya di Kilometer Nol. Photo by: Timer

.

BI jogja

Bank Indonesia Jogja. Arsitek: Hulswitt Dan Cuypers.

Photo by: Mbak Ayuk

.

vendeburg

Benteng Vredeburg. Arsitek: Frans Haak.

Photo by: Timer

.

Saat adzan dhuhur berkumandang, perjalanan kita berakhir di Stasiun Tugu, sholat dhuhur di stasiun dan minum teh susu sambil menunggu prameks, kendaraan terakhir kita menuju Solo. Walau cuma sejam, ngoroklah kita linear dan berjamaah di kereta, sekedar memberi waktu untuk kaki-kaki ini bernafas.

.

Jadi begitulah, menaklukan (atau ditaklukan) Bandung – Jogja 3 hari 2 malam dengan total + Rp 130.000,- (oleh2 not included) akhirnya memberikan kami suatu pelajaran, lain kali amputasi kaki kuda buat cadangan.

Yea, it was so impressed. Wanna try for more ;)

Advertisements