Mempelajari Perilaku

by astridirma

Sebuah catatan kuliah

relaxation time #2

Perilaku dianggap sebagai sesuatu yang sulit diukur. Kaitannya dengan psikologi, ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan, perilaku manusia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu perilaku yang kasat mata atau bisa dilihat (duduk, tidur, berbicara, dll) dan perilaku yang tak kasat mata (motivasi, sikap, dll). Perilaku tersebut menunjukkan keberadaan manusia, yakni berupa interaksi antar sesama manusia dan interaksi manusia dengan lingkungannya.

Arsitektur sendiri, yang dianggap suatu disiplin ilmu yang menciptakan wadah yang memiliki fungsi dan keindahan, memerlukan kajian lebih terhadap perilaku manusia. Sehingga perkawinan antara perilaku dan arsitektur itu sendiri adalah desain arsitektur sebagai lingkungan fisik. Dalam hal ini arsitektur dapat beperan ganda, yaitu sebagai fasilitator terjadinya perilaku atau bahkan sebagai penghambat terjadinya perilaku.

Dihadapkan oleh realita bahwa imajinasi, idea tau sesuatu yang dibayangkan saat merancang sebuah wadah arsitektural akan berbeda setelah dihuni dalam segi fungsi. Maka dari itu perlu mempelajari perilaku dalam melakukan sebuah perancangan arsitektur.

Dalam bukunya, Marslow, 1943 menyebutkan bahwa ada beberapa tingkatan mengenai hierarki kebutuhan manusia, yaitu

  1. Kebutuhan fisiologi, (kebutuhan yang paling mendasar, seperti makan, minum, tidur, dsb)
  2. Kebutuhan akan keamanan
  3. Kebutuhan akan keadaan sosial (persahabatan, dll)
  4. Kebutuhan untuk dihargai (pengakuan sosial, reputasi, dll)
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (memenuhi eksistensi, keindahan, dll)

Tingkatan tersebut berusahan dipenuhi oleh manusia mulai dari urutan teratas, kemudian tingkatan dibawahnya dan seterusnya.

Dalam hierarki kebutuhan tersebut, terlihat bahwa keindahan (estetika) berada di tingkat paling bawah, yang artinya kebutuhan ini dipenuhi belakangan setelah kebutuhan yang lainnya terpenuhi. Padahal, dalam merancang, arsitek biasanya menempatkan estetika pada pertimbangan utama, sehingga banyak kasus seperti ini berakibatarsitek dianggap tidak sosial dan lebih mementingkan ketentuan standar. Hal ini berakibat banyak fasilitas-fasilitas yang dirancang yang kemudian tidak dipakai sesuai tujuan dan wungsi semula (pada waktu perancangan) atau bahasa buruknya, perancangan gagal.

Selain mempelajari perilaku manusia, perlu juga memahami ilmu lingkungan. Karena bagaimanapun juga segala tingkah laku manusia berhubungan erat dengan lingkungan di sekitarnya. Antara perilaku dan lingkungan ini sendiri memiliki hubungan timbal balik dan mempengaruhi satu sama lain.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan perancangan arsitektur adalah untuk menganalisis, meramalakan, menjelaskan serta mempengaruhi hubungan antara tingkah laku manusia dan arsitektur untuk kepentingan manusia itu sendiri dan lingkungannya.

Didengar, dicatat, dipahami dan diresume dari kuliah Arsitektur Perilaku Ir. Sumaryoto, MT. Jurusan Arsitektur UNS.

gambar:  http://google.com

Advertisements