Ditengah Tiga Idiot

by astridirma

Antara Raju, Farhan dan Wangdu …atau Cathur

Perlukah saya tulis ringkasan cerita 3 idiots, kawan? Saya yakin dengan perkembangan teknologi berikut mahasiswa sekarang, file 919 MB ini pasti sudah banyak dimiliki. Bila masih ada yang merasa asing, saya sarankan hubungi banker film donlotan terdekat dan segera duduk menikmati film India ini. Tidak, tidak seperti Kuch Kuch Hota He ko..!

Mungkin ada yang tersindir, tertohok, sedikit merasa, atau masih ada yang tidak sadar, bahwa dirinya mirip dengan tokoh tersebut. Bukan, mereka bukan tokoh nasional, bukan juga pahlawan India. Nama-nama tersebut hanyalah fiktif belaka, bila terjadi kemiripan pasti bukan disengaja.

Saya tidak akan menuliskan testimonial yang panjang untuk film berdurasi 2:45 jam ini. Saya juga merasa tidak asing dengan latar belakang kampus teknik yang mejadi setting cerita, merasa tidak heran dengan cara pandang kebanyakan kaum pelajar jaman sekarang, karena saya adalah salah satunya.

Yang jelas saya sama sekali bukan tipe seperti Chatur (mengucap Hamdallah dalam hati). Anyway, saya suka cara India melafalkan R, sangat jelas dan memiliki tekanan, sehingga terdengar ‘Chaturrrr’. Orang ini tipikal text book yang hidup bergantung pada memori otaknya. Pintar, oke. Pintar menghafal. Ini alasan utama mengapa saya duduk di kelas IPA saat SMA, karena saya tidak suka bahkan takut dengan IPS dan segala isinya. Pendeknya, hafalan saya payah. Saya sadar ini suatu kelemahan. Saya selalu butuh waktu lebih lama saat mempelajari hafalan. Biasanya saya baca kalimat itu berulang-ulang, kemudian mencari lagi kalimat yang lebih sederhana, lalu menulisnya di sebuah kertas. Berhenti sampai disini, biasanya juga tidak langsung hafal. Saya selalu percaya pada nasib baik dan pertolongan Tuhan akan datang pada orang yang benar-benar membutuhkan Nya, maka ketika ulangan dan soal itu tiba, saya mengandalkan sedikit memori yang acak dan menyusunnya kembali dengan bantuan dejavu saat belajar. Saya tau, cara ini sama sekali tidak efektif dan kebanyakan tidak berhasil, tapi sampai sekarang saya belum menggunakan metode lain.

Saya juga tidak seperti Farhan. Orang tua saya mendukung sepenuhnya atas aaapaaa pun hal baik yang saya lakukan. Cita-cita saya tidak pernah berubah semenjak Ibu mengenalkan kata Insinyur di telinga saya. Bahkan sebuah kata seperti Dokter pun terdengan biasa. Pengakuan 1 : sama sekali saya tidak berpikir ulang atau mempertimbangkan kembali saat mengisi formulir pendaftaran universitas. Entah doktrin atau bukan, tapi menjadi arsitek sudah melekat di kepala saya.

Saya mirip dengan Raju. Saya masuk kedunia ini tanpa paksaan, benar-benar dari keinginan saya. Saya mengharap dapat menghasilkan sesuatu yang hebat. Namun, kadang saya bekerja di bawah tekanan. Walaupun tidak dengan alasan yang sama seperti Raju dan keluarganya (dalam film hitam putih itu). Kadang pun saya merasa takut tidak bisa menghasilkan apa-apa.. saya takut menjadi percuma dan lebih ekstrim lagi, saya takut pada.. masa depan.

Saya sedikiiit seperti Wangdu (yeah, Rancho isn’t his truly name). Saya yakin kemampuan orang tidak bisa mentah-mentah dinilai hanya dari banyaknya sertifikat dan ukuran indeks prestasi. Saya juga menganut kepercayaan yang sama, when you love it, no matter you can or not, someday you’ll get it. Bapak saya pun berulangkali mengatakan hal yang sama. Saya pun tidak asing dengan sabda Bapa Ranchoddas: Jangan mengejar kesuksesan, tapi lakukan kesempurnaan, maka sukses lah yang akan mengejarmu. Karena itu, saya menikmati 4 tahun saya belajar di universitas ini dan juga.. setahun kedepan dengan predikat mahasiswa yang masih melekat di diri saya. Salah satu alasan masuk akal yang saya punya, saya mencintai sekolah, belajar, diajar, kelas, papan tulis, tugas, teman….. ini adalah perjalan dimana seseorang tumbuh menjadi dewasa.. *menghela nafas* kalaupun saya lulus dengan predikat Sarjana Teknik di belakang nama saya nanti, artinya saya harus benar-benar seorang Sarjana Teknik. Sudah cukup saya mengejar nilai dari SD, SMP, dan SMA. Sekarang saya perlu mengetahui inti.

Pengakuan 2 : I’m totally moody person. Saya sering tidak memaksakan diri berhadapan dengan tugas saat kondisi mood sedang parah. Saya tahu yang saya lakukan malah membuang waktu, tapi saya yakin pekerjaan yang saya lakukan dengan terpaksa saat hati tidak memihak, tidak akan menghasilkan hasil yang sempurna. Tapi iya, saya tau, saya tidak boleh seterusnya dikontrol oleh mood ini.

Kabar saya sekarang? Setengah menikmati hidup dan setengah tertekan dengan tugas. Saya mencoba mengatur jadwal saya sebaik mungkin. Menstrukturkan secara vertikal tentang count down semua tugas kuliah dalam kertas dobel folio di dinding kamar. Faktanya menyedihkan. Saya rasa, saya benar-benar orang yang tidak mau memaksakan diri. Entah ini baik atau merugikan. (Pengakuan 3): Di lain sisi, saya paling tidak ingin menyesal. Terus terang saya tidak suka perasaan ini. Buat saya, menyesal sepertinya lebih menyakitkan daripada kehilangan sesuatu.

Advertisements