Mensana in Twiteresano*

by astridirma

Saya bukan antisosial.

Buktinya friends di facebook saya lebih dari 900 orang (setelah saya remove sabagian). 90% dari itu saya kenal semua, mulai dari temen SD, SMP, SMA, sejurusan, sekampus, beda kampus, temennya temen dan temen baru kenal.

Saya mulai kenal fesbuk facebook tahun 2007 dimana pada saat itu banyak teman yang masih menggunakan frenster friendster. Saya lupa siapa teman pertama di list facebook saya, sampai 4 bulanan, jumlah teman belum ada sekitar 20 orang. Merasa kurang seru, akhirnya saya kompor-kompori teman-teman dekat saya untuk buat akun di jesos (jejaring sosial.red) ini.

Selang waktu bergulir (uda kaya main kelereng bahasanya) ternyata facebook berdampak banyak juga. Salah satunya yang sering didengar, mainan ini berpengaruh besar pada turunnya produktivitas kerja. Sebenarnya apa saja yang orang lakukan berjam-jam di depan internet hanya dengan mengkases Facebok saja eh?

Saya sendiri pernah merasa sangat asik dengan akun jesos ini. Terlebih karena saya menemukan lagi teman-teman saya yang hilang dan menghilang. Bisa dibilang, facebook adalah salah satu media silahturahmi modern di jaman sekarang. (Tunggu sampai nenek saya punya fesbuk, pasti ga usah jauh-jauh mudik ke Surabaya waktu Lebaran :p).

Informasi menyebar lebih cepat daripada jaman forward sms. Dari mulai bisnis, dakwah, dukungan, bahkan media pengaktualisasian diri. Disini saya temukan teman yang duku saya kenal pendiam bisa sangat aktif bahkan hiperaktif.
Lambat laun saya mulai jenuh dengan muka buku ini,

melirik teman yang duduk disebelah saya waktu itu sedang asik dengan akun jesos yang lain. Maka dia perkenalkan pada saya Plurk.

Truly, saya sudah punya akun Plurk dua tahun yang lalu sebelum akhirnya saya mulai menjadi Plurker setahun yang lalu. Konsepnya simple, seperti miniblog dimana kita hanya mengupdate status, kemudia orang lain menuliskan komentar.

Yang aneh unik, ada sistem karma disitu, jumlah keaktifan ngeplurk nantinya meningkatkan karma kita, dengan bonus emoticon dan theme yang dapat kita gunakan. Disini saya mulai merasa bahwa plurker saya tidak ikhlas apdet update status karena lebih pada menginginkan karma. Sebelum karma saya mencapai nirwana (tingkat Karma tertinggi di Plurk ditunjukkan dengan angka 80.00), saya sudah hengkang dari jesos ini. Walaupun sisa akun saya tidak saya deactive. Masih ada disini sengaja buat bacaan kala kurang kerjaan.

ti

Dari sini saya ngomongin twitter…

Keaktifan saya di facebook mulai berkurang saat saya mengenal Twitter, sesaat setelah saya meninggalkan Plurk. Dengan modal sotoy saya menjadi single twitter pada waktu itu (gak follow siapa-siapa karena gak tau caranya) isi timeline saya pun mulai dari curcol sampai resume kuliah.

Mulanya saya pikir, akun ini seperti miniblog yang lain. Ngeblog dengan batasan karakter (140 karakter), bedanya dengan status facebook, twitter lebih berfsifat informatif (ini hasil pemikiran saya pada waktu itu, koreksi saya bila memang salah). Lama-lama (setelah follow beberapa orang) saya tahu ternyata twitter memang sebuah microblogging dan bukan jesos. Bedanya dengan Plurk, Twitter tidak diharuskan untuk mendapat komentar di setiap statusnya.

Tampilan Twitter juga di desain sangat simple, bahkan sama sekali tidak support emoticon (walaupun pada beberapa aplikasi twitter ada yang menambahkan aplikasi emoticon, tetapi tetap situs www.twitter.com sendiri tidak)

Facebook boleh jadi sangat booming, tapi ternyata Twitter juga sangat booming saat ini. Penyebaran informasi dapat sangat cepat dan lebih luas. Misalnya saat saya memfollow @infogempabmg, akun ini update beberapa detik setelah gempa nasional terjadi berikut skala richter dan pusat gempanya.

Untuk sebagian orang seperti saya yang tidak terlalu sering menonton televisi, membaca timeline twitter membantu ketidaktahuan kita terhadap perkembangan berita, dengan bonus komentar beberapa pakar secara langsung. Sebut saja @ndorokakung salah satu yang saya follow ini gemar sekali mengulas tentang berita-berita terkini lewat twitternya. Saya yang semula tidak tahu menahu paling tidak mendapat sedikit pencerahan, apalagi gaya twit ndoro gaul sekali.

Bila ingin sesuatu yang random, follow @radityadika, @fitrop, @indraherlambang, @deelestari. Beberapa artis ini memang paling menghibur di timeline saya.

Tidak hanya dikalangan perseorangan, muncul juga akun-akun seperti @PocongAsli, @fiksimini, @sombongunite, @LebaySekali, @AnjingGombal yang membuat orang berlomba-lomba agar di retweet mereka.

fava

di retweet orang-orang tertentu juga memberi sensasi lain :)

Ada dua sebutan:

following – people that we follow dan follower – people that following us.

Disini kita berhak memilih siapa saja yang kita akan difollow. Tidak selalu jumlah following kita akan sama dengan jumlah follower. Bedanya dengan facebook dimana kita approve semua teman dan orang yang dikenal, tetapi tidak selalu semua teman yang memiliki akun twitter akan saya follow. Sudah jelas, semua tergantung dengan timeline masing-masing.
Bisa dibayangkan bila 500 teman memiliki akun twitter dan kita follow semuanya. Saya rasa bukan informasi dan hiburan yang kita dapat, melainkan kebosanan. Hal ini karena tipe tweet orang berbeda-beda.

Saya pribadi lebih selektif dengan twitter yang saya follow. Bukan bermaksud sombong, karena Twitter memang bukan Facebook. They’re different things and I treat them different also. Karena saya selalu membaca semua timeline, sehingga akan sedikit terganggu bila seandainya isi timeline saya hanya RT (retweet) yang berlaku seperti chatting.

Sebatas yang saya palajari, Twitter sendiri bukan seperti Yahoo Messenger. See.. we should not do chat constantly.
Saya pun lebih appreciated dengan follower yang suka dengan tweet saya bukan memfollow saya semata-mata karena saya adalah teman yang ia kenal. Bagi twitawan dan twitawati, mendapat tambahan follower memiliki sensasi tersendiri. Disini jelas, mengapa @PocongAsli memiliki banyak follower dan sempat menjadi trending topic, karena orang merasa terhibur dengan konten timelinenya bukan karena siapa pocongnya orangnya.

Konsep microblogging memang adalah blog dalam bentuk yang lebih kecil. Dari sini, twitter adalah blog dan bagaimana kita menulis setiap post adalah sama.

Sesekali saya lihat halaman profil saya, apakah akan menarik bila dibaca orang lain dan apakah ada sustainability disana. Yah, walaupun begitu, web 2.0 membuat kita memiliki akun-akun ini dimana kita dengan bebas dapat mengisinya dengan apapun. Tweet like no one following, tapi akan lebih baik jika tweet and respect our loyal followers.

So far, saya lebih sering ngetwit daripada mantengin fesbuk. Sedangkan blog saya ini masih tetap dengan taglinenya.

Twittero Ergo Sum – Aku ngetwit, maka aku eksis ada. Jadi bukan berarti orang yang saban harinya mangkal di depan internet sampai autis* (ups, I should not say it for a joke again) ga jelas ini disebut anti sosial. Haha bersosialisasi kan bisa dilakukan lewat media apa saja.

.

I love technology today. Every information comes faster.

.

* Di dalam tubuh yang sehat bisa ngetwit yang banyak– Irmasari, 2009

Advertisements