A Nice Dream

by astridirma

Ini salah satu mimpi saya sebenarnya. Masuk ke perpustakaan gede, keren dan yang paling penting isinya lengkap. Buku-bukunya lengkap. Ga muluk-muluk deh, minimal kaya gramedia gitu.

Bisa bayangin ga, dari jauh jendelanya bling bling, terus pintu masuknya tersenyum melambai-lambai sambil merentangkan tangan (eh, ko malah serem..). Di dalamnya aroma pinus dimana-mana, pustakawannya ramah dan cakep-cakep juga (oke, this is not the point). Di sana kita bisa milih mau duduk dimana, mau baca dengan gaya apa. Suka yang ekslusif duduk di sofa sambil nyeruput hot chocolate atau di bawah pohon diterpa angin silir-silir makan keripik pisang atau selonjoran di karpet atau pake meja gede buat bareng-bareng. Bebas.

Mau cari buku apa aja ada. Tentunya buku-buku ga cuma diklasifikasikan menurut jenisnya aja, tetapi umur dan suasana. Kaya misalnya kalo lagi baca komik one piece, naruto.. agak-agak ga pas kan kalo wallpaper ruang temanya klasik kaya kamar tidur raja. Di lain sisi ruang baca buku novel atau filsafat agak ga lucu kalo backsound yang maen itu lagu Bondan.. waktu kecil.

Itu salah satu mimpi saya. Selama ini perpustakaan yang saya tau sebatas perpustakaan di sekolah, lanjut ke kampus, juga perpus daerah di Sukoharjo, tempat tinggal saya. Kondisi perpustakaan saya waktu SD sangat memprihatinkan. Bahkan itu bukan perpustakaan, hanya satu rak buku kecil yang diletakkan dalam ruang guru dengan isinya yang sudah bisa diperkirakan. Betul. Terbatas.

Saat masuk ke SMP paling favorit di Kabupaten saya waktu itu, saya sudah membayangkan pasti akan ada lebih banyak buku dalam perpustakaannya.. dan memang benar. Banyak buku paket.. dan serupa. Tidak jauh beda dengan perpustakaan saya sewaktu SMA. Saya ingat betul, teman-teman justru ke perpustakaan karena ingin melihat televisi. Hanya untuk meminjam buku paket di awal semester dan kemudian mengembalikannya. Hanya itu.Sekali lagi saya kecewa.

Keadaan di kampus juga tidak banyak membantu. Bahkan rak-rak bacanya terkesan horror, menimbulkan imajinasi yang bukan-bukan. Padahal gedungnya besar, dua lantai dan terdapat ruang baca outdoor di taman. Namun, pada saat ada bazaar buku pun, gedung itu juga tidak ramai.

Menyayangkan betapa minimnya minat baca pelajar? Bagaimana kalau ditengok juga obyeknya. Toko buku sekelas Gramedia jelas masih lebih ramai pengunjung. Padahal, saya yakin tidak semua yang pergi ke sana untuk membeli buku. Buktinya saya sendiri (#pengakuan). Mengapa orang lebih memilih membaca buku dengan kondisi terbatas seperti itu ketimbang datang dan membaca di perpustakaan? Jawabannya jelas, bukunya ga ada. Beberapa juga membandingkan suasana.

Membaca ternyata bukan hanya tentang obyek yang dibacanya. Terkadang seseorang memerlukan suasana yang egois dan konsentrasi. Dalam hal ini peran ruang sangat besar dalam menumbuhkan sebuah minat dan perasaan nyaman.

Itu mimpi saya. Untuk kota ini. Barangkali kalau ada fasilitas seperti ini, sedikit bisa mengalihkan pengunjung Solo Grand Mall dan Solo Square mungkin. Kenapa tidak, menjadikan membaca menjadi sebuah lifestyle di jaman modern ini. I’m still in a opinion that a nerd guy is cool.

Ngomong-ngomong, yang saya ceritakan ini sedang jadi bahan studi saya menuju TA (Tugas Akhir). Idenya memang simple, sebuah pusat baca yang menampung semua kegiatan membaca sekaligus menumbuhkan minat baca. Menggabungkan konsep modern book shop and kafe juga perpustakaan dalam satu wadah. Bikin perpustakaan seramai mall? Kenapa enggak..

Advertisements