Drama Facebook, Sebuah Review

by astridirma

Yah, seperti biasa saya selalu penasaran dengan film-film baru. Menikmati olah digital gabungan antara seni, sastra dan teknologi dengan duduk manis di sandaran empuk adalah hiburan dan relaksasi yang sangat menyenangkan.

Pertama kali dengar judul film ini, The Social Network, saya malah tidak memikirkan sosial media secara langsung, atau yang beberapa akrab dengan browser history saya. Bahkan saya tidak memikirkan facebook. Terbiasa tidak membaca review film terlebih dahulu justru menarik buat saya. Membiarkan rasa penasaran dan menerima kejutan setelahnya.

the_social_network_movie_image_andrew_garfield_01

Kurang kacamata doang sih ini

Terus terang, saya cuma paham memainkannya, bukan bagaimana sejarahnya. Ya, facebook yang setiap hari, oleh sebagian orang, diakses ini, berawal dari sebuah situs kecil. Sangat klise, dan Mark Zuckerberg, penemunya, adalah mahasiswa Harvard sekaligus programmer komputer berbakat. Cukup sampai disitu pengetahuan saya tentang Facebook.

Berawal dari pertengkaran Mark dengan pacarnya (kemudian akhirnya mereka putus), sambil minum dan mabuk (walaupun saya tidak melihat dia seperti mabuk), ia mencoba meluapkan kekesalannya dengan menulis blog tentang mantan pacarnya sekaligus membuat facemash. Mark meretas server kampusnya dan mengambil foto-foto mahasiswi lalu mengirimkan email kepada beberapa mahasiswa untuk sekedar memilih salah satu dari kedua foto tersebut yang lebih menarik. Teman sekamarnya bahkan tidak terlalu peduli, tapi kemudian tertarik karena facemash mendapat 22.000 hits dalam waktu 2 jam. Kabar tentang facemash akhirnya mengantarkan Mark pada Badan Administrasi Harvard karena dianggap membobol sistem keamanan komputer kampus, melanggar peraturan privasi di internet, dan melanggar hak cipta.

Kabar ini juga didengar oleh Winklevoss bersaudara dan Divya Narendra, mahasiswa elit di Harvard. Mereka kemudian mengajak Mark bergabung untuk mendirikan situs jejaring sosial, yang dapat menghubungkan mahasiswa sekaligus mengetahui profil dan hal-hal pribadi miliki mereka, dan Mark menyatakan iya, ikut bergabung.

Pada kenyataannya, Mark dibantu oleh sahabatnya Eduardo Saverin untuk mengembangkan ide itu, mulai dari perhitungan alogaritma sampai dengan finansial, juga oleh teman sekamarnya Dustin Moskovitz dan Chris Hugh. Pada hari pertama, TheFacebook, sudah memiliki 650 orang anggota dan kemudian semakian bertambah di hari-hari selanjutnya, karena Mark memutuskan untuk memperluas TheFacebook tidak hanya di Harvard, tetapi juga kampus-kampus lain di Amerika.

Ketenaran TheFacebook akhirnya menarik perhatian Sean Parker, penemu Napster Ia akhirnya bertemu Mark dan menawarkan kerjasama. Dari hasil kerjasama tersebut situs yang kini bernama Facebook mengalami perkembangan pesat bahkan mendapat dukungan dana dari perusahaan besar. Perkembangannya menyebabkan konflik Mark dengan Eduardo dan adanya tuntutan dari Winklevoss bersaudara karena dianggap mencuri ide social network mereka.

Mark : ‘A guy who makes a new chair doesn’t owe money to everyone who ever built a chair’

Alur cerita dalam film ini maju mundur dan sungguh padat, sangat tidak mungkin bila kita meleng sedikit saja. Apalagi Mark selalu mengucapkan dialognya begitu cepat. Hal ini sebenarnya sudah diperingatkan sejak awal. Opening film dalam adegan Mark dengan Pacarnya terus terang memerlukan sedikit tambahan konsentrasi untuk mengikuti pembicaraan mereka. Adegan ini memberitahui lebih awal tentang karakter Mark sebagai pemuda cerdas, egois, ambisius, dan sedikit acuh. Namun, di balik itu tersembunyi Mark yang kesepian dan membutuhkan sahabat, termasuk juga teman wanita. Sempat di adegan opening itu Mark menyebut Final Club, semacam klub elit di Harvard, dan saya menduga ia tidak termasuk dalam anggotanya, sehingga menimbulkan sedikit rendah diri. Namun, kemudian ia menutupinya dengan berusaha menarik perhatian teman-temannya melalui jaringan internet.

Secara keseluruhan film ini sungguh menyenangkan. Dalam pandangan saya sendiri, ini karena karakter Mark yang sangat dominan. Drama dan konflik yang ada tidak berlebihan, tetapi tetap menyentuh. Komedi yang dimunculkan cerdas. Beberapa ada di dalam dialog Mark sendiri. Saya terkesan dengan Jesse Eisenberg yang sangat baik sekali meniru Mark Zuckerberg seperti karakter aslinya. Sebagai tambahan, Justin Timberlake memerankan salah satu tokoh disini. Ini pertama kalinya saya melihatnya tidak menari-nari di layar kaca. Juga… hm, pemain-pemain di film ini, meh, ganteng-ganteng pisan. (em, saya bicara tentang Andrew Garfield, Armie Hammer dan Joseph Mazzelo).

the_social_network_12andrew-garfield-joseph-mazzello-jesse-eisenberg-patrick-maple-2010-10-3-12-14-38the_social_network20

Sejarah terbentuknya facebook diceritakan dengan baik oleh Sutradaranya, David Fincher, yang mengambil cerita dari sebuah buku nonfiksi The Accidental Billionaires: The Founding of Facebook, A Tale of Sex, Money, Genius, and Betrayal karya Ben Mezrich. Film ini cukup membuat saya memutuskan untuk mencari tahu lebih detail tentang sejarah Facebook versi nyata. Ternyata memang tidak banyak berbeda, dari beberapa sumber yang saya baca. Bahkan nama-nama seperi Winklevoss, Divya Narendra, Sean Parker dan Peter Thiel memang benar ada. Namun, disebutkan partner sekaligus CFO Facebook adalah Adam D’Angelo. Juga tidak menyebut-nyebut mantan CFO Netscape Peter Currie yang pernah didatangi Mark untuk member nasehat tentang strategi pembiayaan Facebook. Saya tidak terlalu berharap cerita dalam film ini sama dengan kenyataannya. Saya tahu saya bukan sedang menonton Discovery Chanel. Yah.

Saya hanya sedikit bertanya, kalau memang sejarah dan cerita dalam film ini begitu mirip, dan tentang karakter yang bukan protagonis di dalamnya, apakah pada kenyataannya juga begitu? Lalu bagaimana pendapat Zuckerberg sendiri mengenai film tentang dirinya ini?

.

referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Mark_Zuckerberg
http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook
http://omarinu.blogspot.com/2009/03/sejarah-facebook.html
Advertisements