Shawshank Redemption

by astridirma

Akhirnya kesampaian juga nonton Shawshank Redemption, film yang tiap kali saya buka imdb masih aja duduk manis di top 250. Se-uwow apakah ceritanya, sekeren apakah settingnya, seganteng apakan aktornya (tetep ya). Yah, selalu wajar ada pertanyaan-pertanyaan wajar semacam ini.

Lepas dari review review yg sudah sangat banyak itu, saya mau ulas dari sisi lain yang adalah.. adalah.. *layar komputer keluar bubbles 15 menit lalu mati* ..sisi ngkat singkatnya saja ya pemirsa.
Awalnya saya sudah minum cerebrofot, oralit, kombantrin, untuk menyamakan kadar otak dengan film yg terlihat berat ini. Dari judulnya aja serem. Shawshank. Pasti settingnya di laut, penuh dengan hiu. (eh..) Seperempat durasi saya lewati dengan tenang. Bersiap antisipasi tokoh mana yg sebenarnya tidak lain adalah alter ego dari tokoh utama itu sendiri. Bagi penggemar film thriller psikologis, kejadian ini akan berulang walaupun sedang nonton Upin dan Ipin. Siapa yg sependapat dengan saya, bahwa Upin hanya alter ego bikinan Ipin. Sejak lahir dia sendiri, bahkan kak Ros, neneknya, gurunya, teman temannya.. *dibungkam komnas perlindungan anak*

Sampai bar menunjuk 3 per 4 durasi, saya masih menunggu adegan pukul, atau keluarnya  komputer canggih. (Blame that agents movies). Sebenarnya film ini bisa saja menjadi membosankan, tapi entah apa yg membuat saya tetap betah menikmatinya. Satu alur, satu setting dan ending yg ditebak tebak. Tanpa sadar, saya seperti 2 jam di dalam azkaban, tanpa dementor, tapi dengan sipir yg lebih suka main pukul ketimbang main catur.

Akhirnya saya bisa katakan kalau ini bukan film berat. File nya ga sampe 1 gb gitu. Daripada mencari cari alter ego yg sepertinya tidak ada, entah sejak kapan saya malah menikmati angle kamera dan dominasi warna di layar TV. Tiba tiba saya didoktrin bahwa kehidupan di dalam penjara serupa monokrom, satu warna. Jelas tidak akan ditemui warna warna cerah, apalagi bling bling. Saya ingat tidak sedang nonton Shopaholic atau Twilight. Ingat 3 Idiots pada bagian keluarga Raju? Itu cara sederhana bagaimana memisahkan feeling ceria, sedih, jaman modern , klasik atau yang lain dalam sebuah gambar. Perasaan kita sudah dituntun ke dalam setting suram bahkan sebelum banyak dialog film ini muncul.

Bagaimana keberadaan buku dan suara musik saja bisa memberi suatu pengharapan. Bagaimana keteguhan hati bisa memberi kekuatan baru, dan menular. Karena Andy Dufresne, aktor paling penting disini, mungkin dia yang akan dituduh memberikan semua hikmah film ini. Kenyataannya tidak. Hampir semua aktor rasanya pengen saya peluk, lalu kasih oscar masing masing.

shawshank-redemption-movie-still-1

Brooks, Tokoh Favorit Saya

Terus terang The Next Three Days masih lebih menegangkan ditonton untuk sesama film pelarian. Tapi yah, sepertinya yang bikin film ini pengen lebih dari sekedar seru seruan. Capek menebak tokoh khayalan, saya mulai menebak nebak hikmah, dan hikmah yang bisa diambil adalah.. jangan sampe masuk penjara. (Ya Tuhan cetek banget saya).

Apa kabar penjara Indonesia yang katanya sekelas hotel berbintang. Shawshank punya kamar seukuran (mungkin) 1×1,5 meter dengan wc di dalamnya, sebagai kamar hukuman untuk narapidana yang melanggar aturan atau melanggar kesenangan kepala penjara. Saya tetiba ikut berkeringat dan menciut, membayangkan Andy Dufresne dikurung di dalamnya selama 2 bulan penuh.

Drama yang tenang tanpa misteri, komedi, sex, efek komputer berlebihan dan aktor tampan untuk menarik penonton. Kali ini saya murni jatuh hati pada akting pemeran. Ga bertele tele untuk sampai klimaks cerita. Walaupun buat saya tidak terlalu klimaks untuk disebut klimaks. Ditutup dengan ending yang akan membuat sebagian meneteskan air mata (terharu), atau meneteskan keringat (nonton sambil push up 2 jam), atau bengong-yah-ko-gitu-sih, atau langsung nonton lagi besoknya.

Akhirnya film ini masuk dalam list film-yang-sayang-dibuang-walau-sudah-ditonton-dan-belum-niat-nonton-lagi.

Rating 8,5 dari 10.

Advertisements