The Awuwuu Spidey

by astridirma

Saya ga mencoba menulis tentang kualitas cinematografi atau kritiknya. Ini adalah tentang apa yang tetiba terpikir, tersentil dan terasa saat saya duduk menikmati film sambil nyemil. Tapi maaf kalau semisal ada spoiler beserta cerita pendukung yang melebar kemana-mana.

Spider-Man sendiri adalah tokoh Marvel favorit saya, yang saya pikir fiksi yang paling mendekati masuk akal ketimbang lainnya. Walaupun begitu saya ga segitunya nonton semua seri Spider-Man dari yang jadul sampai yang agak baru tapi kartun. Komiknya aja yang kadang nemu di koran juga ga pernah saya baca. Ringkesnya saya suka Spider-Man bentuk manusia. Begitulah. Jadi selama ini saya cuma kenal model model Tobey Maguire, dan ketika mendengar kabar burung – yang beterbangan di google pada waktu itu – bahwa Andrew Garfield akan memerankan sekuel Spiderman selanjutnya, rasanya seperti saat tahu yang akan bermain menjadi Fahri di Ayat Ayat Cinta adalah Fedi Nuril. Oh iya, double heart. Bahkan seorang Gordonn-Levitt baru saya ngeh gantengnya setelah Inception – waktu nonton 500 Days Of Summer kemana aja, gitu. Atau Tom Felton yang setelah sekuel Harry Potter ke-6 baru mulai bersinar sinar. Garfield ini nyatanya termasuk yang mencuri perhatian saya sejak di awal pertemuan kami dalam The Social Network. Saat itu dia di Harvard lagi syuting, saya di depan laptop lagi nonton hasil syutingnya. Begitulah. Sesederhana itu ngefans pada pandangan pertama.

Awalnya saya ga menyangka ternyata bukan sekuel Spider-Man ke-4 yang dirilis, tetapi malah remake nya. Walaupun begitu akhirnya menjawab pertanyaan semua umat kenapa Tobey Maguire diganti. Yakarena ini remake. Udah, gitu. Kenapa kaget, padahal pendahulunya juga sama. Batman, Captain America, Superman, Hulk, Catwoman, James Bond.. sudah pernah ganti ganti pemeran. Yang belum Mission Impossible. Itu Cruise udah tua. Tapi duren sih, twips.

Belakangan saya tahu kalau Marc Webb, sang sutradara adalah orang yang sama dibalik 500 Days of Summer. Entah cuma saya sendiri atau ada juga yang berpikir kalau Emma Stone memang mirip dengan Zooey Deschanel – those eyes are big. Selera Webb masih sama. Pun komedi romantis Tom Hansen dan Summer Finn juga sedikit terasa disini. Saya baru tahu Emma Stone setelah nonton Zombieland (film ini mending jangan langsung ditonton setelah khatam The Social Network kalau ga ingin merusak pencitraan Jesse Einsenberg) ..dan iya, saya suka sekali blonde satu ini. Apalagi kalau dipaksa dibandingkan dengan Kristent Dunst. Tapi jangan salah, keduanya tidak memerankan Mary Jane Watson. Saya juga baru tahu kalau ada lagi cinta cintaan Parker selain MJ. Sebelum ini saya ga kenal siapa itu Gwen Stacy atau Flash Thompshon yang sering ada di komik.

Biar ga ribet, mending ga usah dibanding bandingkan dengan film sebelumnya, era Tobey Maguire. Bakal banyak perbedaan sekaligus kesamaan yang mengundang semua orang untuk tetap memperbandingkan. *sigh. Yasudahlah.

Seperti kebiasaan yang sudah menjadi prinsip hidup, saya ga mau baca review apapun sebelum nonton filmnya. Gak baca tapi denger juga akhirnya – yang katanya reboot Spider-Man ini akan lebih banyak fokus ke masa lalu Peter Parker. Oh, flashback gitu.. pikir saya. Tapi ternyata enggak.

Film dimulai dengan… gak tau twips :( aku telat 2 menitan. Bete sumpa.

Peter Parker disini lebih ‘muda’ dan lebih enerjik, gak sekutubuku, sependiam dan semisterius seperti rupa rupa Maguire. Walaupun saya kehilangan sekali kacamata Parker disini. Rasanya sih kostum desainernya pengen menonjol. Ga banyak perubahan warna dan desain, tapi detail kainnya lebih banyak dapat sorotan kamera. Seperti biasa, ga jelas itu kostum ceritanya Peter jahit sendiri atau ke tukang jahit, tau tau jadi keren aja gitu. Parker juga lebih sering buka topeng saat dalam kostum Spider-Man. Jadi kita tau badan Garfield memang se-oke stuntmant stunmant yang biasanya cuma kejatah pake kostum di adegan jatoh jatoh atau kelindes lindes. Selain itu rambut Garfield ini ampun, acakable banget :3. Jika sebelum ini saya lebih suka Spider-Man dengan kostum lengkap, sekarang Spider-Man tanpa topeng wajah. Biarlah ke-awuwuu-an Andrew Garfield melengkapi baju selam motif jaring jaring itu.

mana yang  pelukable? eksplorasi kostum spidey. ganti stripping.

Jalan cerita rupanya ga jauh beda dengan Spider-Man era Maguire, yang lagi-lagi saya pikir sebelumnya bakalan berbeda total seperti Batman dan The Dark Night. Kalau The Dark Night dan sekuel selanjutnya bukan lagi tontonan superhero dengan simple story, tapi The Amazing Spiderman masih memberi plot yang serupa. Peter Parker muncul – Peter Parker disengat laba-laba – Peter Parker jadi mutan – Peter Parker latihan jumpalitan – Lahir monster – Spider-Man vs monster – Spider-Man menang – Selesai. Bahkan Paman Ben meninggal lagi disini. Hanya saja tambahan mengenai orang tua Parker dan masa lalunya yang menjadikan film ini berbeda dengan trilogi sebelumnya. Akhirnya keduanya seperti – era Maguire adalah novelnya; dan era Garfield adalah transformasinya ke dalam film. Sedikit mirip, sedikit beda. Lalu maksud tagline ‘The Untold Story’ ini entah kisah yang belum diceritakan atau memang revisi dari trilogi sebelumnya.

Selain kualitas setting yang memuaskan, komedi dan akting Garfield benar benar mengharukan. Belum lagi bercandaan sutradara lewat ‘Spider-Man with backpack’. Sony Ericsson juga ga mau kalah ekspos sama penjahit baju ketat Spidey di adegan penting ga penting yang seharusnya bikin seluruh penghuni bioskop tergelak. Sayangnya sewaktu saya nonton, cuma tiga perempat kursi yang terisi. Saya jadi kangen nonton premier dimana euforia penonton masih panas panasnya. Yang lebih ganggu lagi, anak kecil tepat di belakang kursi saya terus terusan tanya bapaknya hampir di tiap bukan-adegan-action. Orang tua jaman sekarang barangkali masih ngira semua tokoh Marvel dan filmnya adalah tontonan yang tepat dan menghibur usia 10 tahun ke bawah. Capek. Jadi sewaktu Emma ciuman sama Garfield si bapak cuma bisa bilang, ‘tutup mata nak’. *nguap*

Jaring laba-laba yang menjadi obyek paling penting setelah kostum selam itu, di sini adalah alat canggih temuan Peter Parker sendiri. Berbeda dengan trilogi sebelumnya yang sudah sepaket dengan ‘kekuatan laba-laba’. Mana yang lebih mudah diterima orang awam? Saya rasa sih ‘alat’ ini lebih masuk akal. Tapiya namanya juga mutan, segala bentuk imajinasi bisa diterapkan. Namun, dari situ Parker kali ini dirasa lebih ‘jenius’. Selain bisa menciptakan alat canggih, dia pun menyelesaikan alogaritma susah -yang dari bentuk tulisannya aja saya ga tau itu rumus beneran atau lagi lagi bercandaan sutradaranya. Gwen Stacy juga ga berperan sebagai pacar superhero yang lemah, cengeng, yang Cuma jadi sandera monster monster lawan (ups sory, MJ). Dia punya banyak andil dalam menumpas kejahatan dan membela yang benar di sini.

Di alat ini aku menggantungkan hidupku -Peter Parker
Ah plis deh, keren banget kan baju jaitan gue.. -Penjahit baju Spidey, sebut saja Mawar

Ada beberapa adegan klise yang sering ditemui di film lainnya. Walaupun begitu, penonton masih terhibur dan ‘mencoba lupa’, seperti saat cameo Stan Lee (pengarang asli tokoh Spider-Man) di dalam perpustakaan yang mengenakan headset, sehingga tidak mendengar Spider-Man menjebol dinding lalu berguling guling ketika berkelahi dengan monster kadal. Kalau ga salah adegan serupa juga ada di Transformer, Transporter The Raid, em apa lagi ya. Atau kejanggalan yang sebenernya bikin sebel, karena entah kenapa sutradara memilih untuk ga ambil pusing, seperti ketika monster kadal berubah lagi menjadi manusia yang pada adegan sebelumnya masih mengenakan pakaian. Piye carane coba. Awak’e kan soyo gede. Hal itu mendadak diralat di akhir cerita ketika saat berubah menjadi manusia, dia ga berbusana lagi. Sepertinya begitu. Ga jelas. Ga di-closeup.

After all, film ini masuk list film yang akan saya tonton berulang ulang. Pengambilan gambar yang ga monoton, aktor dan aktris yang saya suka banget dan komedinya yang ga garing. Efek 3Dnya walaupun tidak supperr, tapi lumayan menghibur dan lumayan ga bikin rugi nonton di bioskop. (ketauan deh biasanya donlot..).

Advertisements