TDK Rises. The Day After.

by astridirma

Ada keuntungan saat kita tidak tahu cerita di versi komik atau novelnya. Gambar bergerak yang ada di depan kita saat itu adalah pertunjukan langsung yang mendadak. Sedangkan ekspektasi terletak di pemain dan jalan cerita, dan kejutan terletak di endingnya. Sekali lagi saya adalah orang awam di dunia kebatmanan ini, hingga saya menaruh harap pada Cristopher Nolan, sang sutradara.  Bagi yang belum melihat karya Nolan sebelumnya, pasti memaki maki kenapa potongan ceritanya loncat loncat. Untungnya bukan dominan alur maju mundur, tapi masih dengan dialog yang padat. Saya heran, masih aja ada yang rela keluar studio untuk sekedar pipis atau beli minum. Yak, beli minum sodara sodara. Hampir saya melempar sendal ketika mas mas popcorn dengan tanpa dosa melewati bangku saya buat ngasih kembalian ke mbak mbak di dua kursi sebelah saya. Untungnya inget ternyata saya pake sepatu.

Lagi lagi saya ga berusaha mencari tahu siapa pasukan yang dipilih Nolan, biar serpreis gitu. Hanya saja, internet lebih dari sekedar dinding yang punya telingan dan bisa bicara. Saya cuma dengar bahwa Gordon-Levitt dan Tom Hardy cikuciku ikut main entah peran apa. Apa apaan ini, sekuel inception?

Benar saja ada ‘Arthur’ yang disisipkan disini. Pun sebagai peran pembantu yang sangat membantu. Namun, John Blake adalah karakter yang kuat hingga saya hampir lupa ini adalah film Batman. Blake sangat dominan, bukan cuma sebagai figuran polisi.

ImageMy cikuciku Blake Gordon-Levitt

Daripada saat menjadi Batman, Bruce Wayne lebih banyak mendapat peran. Ini yang membuat Batman bukan sekedar cerita superhero biasa. Batman bukan seorang mutan baik yang bertarung dengan mutan jahat. Batman adalah kostum seorang milyader yang mengoleksi kendaraan dan senjata keren. Kebetulan juga orangnya baik hati, disela sela menjadi milyader, tidak keberatan menjadi superhero Gotham City. Semua kefiksian cerita Batman tidak ada yang fiksi kecuali setting kota, Gotham. Tidak perlu ada Gedung putih yang diinjak injak Godzilla atau Puncak Empire State dan London Bridge yang diledakkan. Ditambah sekarang konflik Batman di era Nolan sangat realistis. (Mendadak teringat Poison Ivy)

Saya cinta sekali dengan adanya Anne Hathaway yang ga cuma bisa berakarakter cantik yang anggun, tapi juga bitci yang keren. Untuk dipasangkan dengan Batman jadinya agak sedikit maksa. Cerita ini butuh pengakuan bahwa seorang pemain utama ga boleh tanpa pasangan. Kalau penonton tiba-tiba disuguhkan ending yang ‘penting’ tanpa ada awal mula, pasti bertanya tanya lah-kapan-mulainya-oh-jadi-beneran-jadi-ya, semacam itu. Jadi walaupun ciuman di bagian hampir ending terlihat ga penting mau ga mau tetep harus ada. Entah kenapa setiap romans di film harus tercipta dari grepe grepe dan ciuman.

Harus diakui Bane ga segitunya bikin penonton ngeri. Apa coba yang bikin serem? Topengnya doang? Efek kresek kresek suaranya? Mending kalo serak serak basah (Lah). Buat jadi musuh, badan gedenya oke, tapi kulit putih bersih? Huhu. Full tatto kek, bekas luka sebadan kek. Bulu dada kek. (eh). Walaupun begitu, Bane disini bukan manusia dengan suntik protein berlebih yang dicabut otaknya dan cuma bisa angguk angguk sama nggerem doang. Kali ini Bane adalah pimpinan geng underground ‘bawah tanah’. Saya selalu takjub setiap ada setting di gorong gorong. Bahkan basement gedung gedung tanah air ini hampir kalah dengan ‘got’ saja. Mungkin dengan cameo tikus tikus gemuk bisa memperkuat citra got. Sayang sekali. Image

Foto keluarga. Yang hangat. Di kala hujan.

Baru lima menit awal cerita, saya sudah dipaksa mengingat ingat cerita The Dark Knight 4 tahun silam – yang cuma saya ingat Jokernya aja. Lalu cerita Batman Begins 7 tahun yang lalu. Ini jaman saya belum kuliah, masih polos polosnya. Saya cuma inget mau ngajak gebetan nonton tapi ga berani. #eaa. Oke, intinya saya ga ingat cerita cerita sekuel sebelumnya, trims. Kepala saya mendadak bercabang. Separuh menikmati film, separuh lagi berusaha mengingat ingat siapa itu Harvey Dent dan Ra As Guhl *berlindung dari fans batman di dalam kerdus indomi*.

Saking banyaknya cerita yang harus ‘dirampungkan’ di dalam akhir trilogi ini.. (eh beneran ni udah tamat. Robin belum muncul oi. Gak rela saya) ..ada beberapa dan um, cenderung banyak adegan dan setting yang mengganggu, buat saya. Seperti klise yang selalu ada di hampir setiap adegan bom mau meledak. Katanya tinggal 11 menit, tapi.. ya gitu deh. Gak meledak meledak. Ini tingkat galau teratas buat penonton.

Shawsank, Nusa Kambangan, Azkaban sudah kejem buat saya, ini masih adalagi sumur raksasa di tengah padang pasir yang niat banget ada TV gedenya pula. Rasanya orang yang kecemplung disana ga bisa kabur kalo ga ‘manjat’. Terus semisal ada yang main ski pasir dan ga sengaja kecemplung juga.. yaudah aja gitu? Galau abis. Terus yamasasih bertahun tahun ga ada invention apalah gitu. Pengait super, jaring spidermen, baling baling bambu atau apa kek. Terus itu Bruce Wyne berapa bulan ada disitu? Ditambah semua polisi Gotham City terperangkap di gorong gorong, entah kenapa Bane ga langsung aja ngebom seisi kota. Nunggu apa? Lebih gregetan lagi setelah Bruce Wayne dengan heroik berhasil ‘mentas’ dari dalem sumur, eh itu tali tambang dilempar lagi ke dalem. Adegan ini bener-bener bikin gagal paham. Masa dia ga mau apalah balas budi atau hoi-ga-ada-yang-mau-keluar-nih gitu sama temen-temen penjaranya? Pasti adegan waktu penghuni sumur maki maki Bruce Wayne ikut kepotong. Kalo ga, bisa beneran jadi 4 jam ini film.

Film selesai, credit title muncul, penonton mengelus pantat, merentangkan tangan dan kaki, saya mengerut ngerut dahi. TOM HARDY NYA MANAA..? Entah kontrak apa yang belum lunas, atau emang beneran pengen reunian. DEMIAPAH HARUS TOM HARDY YANG JADI BANE??

Mister Nolan,  kalo cuma mau yang botak keker yang dimaskerin di seluruh durasi kenapa harus Tom Hardy? Itu orang seksinya dari bibir… Bahkan suaranya di-dubbing aja kita ga tau. Entah harus nangis atau ngakak, saat tahu kenyataan bahwa beneran Tom Hardy yang jadi Bane. Pantesan aja dari awal saya ga merasa serem tapi gemes gemes gimana gitu. Halah. Image

 Dari kiri ke kanan: ini Tom Hardy, Tom Hardy keker, ini siapa, ini lagi siapaah…

Saya merasa duduk 4 jam. Atau memang saking serunya, waktu jadi berjalan begitu lambat. Kenyataannya film ini berdurasi hampir 3 jam. Kalo produsernya Indonesia, pasti udah langsung dijadiin dua seri. Sepanjang durasi, selain orang yang dateng telat, keluar masuk pipis dan mas mas popcorn yang gak banget, kelihatannya semua tegang nonton film ini. Atau gak ngerti ya. Dieem aja gitu. Pas lucu ga ada yang ketawa, pas kaget ga ada yang teriak ‘hooh..’ ‘huwoo’ atau apalah. Ih mereka tidur apa pacaran sik.

Kalau soal ending, ga usah ditanya. Nolan selalu ga rela penonton meninggalkan bioskop tanpa bertanya tanya. Mungkin ada yang langsung browsing siapa itu Dick Grayson. Lepas dari fakta saya suka jajaran pemainnya, sekali lagi Nolan berhasil buat saya jatuh cinta dan langsung pingin nonton filmnya lagi, berkali kali.

Advertisements