Kekampretan The Cabin In The Woods

by astridirma

Oke, ini kesekian kalinya saya sok sok an nonton horror di bioskop. Kenapa sok sok an? Ini seharusnya jadi pernyataan dan bukan pertanyaan. Kenapa juga orang yang penakut rela bayar buat ditakut takutin. Alhasil ini murni karena terpengaruh sama rating. Jadi semisal IMDB bilang kalo film naga terbang Indosiar ratingnya diatas 7, saya nonton juga deh.

Yang mereka bilang, film ini nantinya bukan horror atau thriller psikopat klise. ‘Anda akan melihat plot horor klise pada awalnya. Namun, pendapat anda akan berubah ketika ke klisean tersebut tidak lagi menjadi klise yang biasa..’ kira kira begitu yang saya baca (naon sik?). Okelah I’ll take that risks.

Lihat posternya sih saya menduga akan seperti Monster House atau Rumah Dara.

Plotnya begini: Lima orang friendzoned mau piknik di… tengah hutan. Di tengah jalan mereka berhenti di pom bensin lumutan yang terlihat ga berpenghuni sekian lama. Lalu muncul tetiba bapak tua yang bilang ga usahlah dilanjutin perjalanannya kesana.

Sialan. Inisih kaya ngasih rokok sama orang puasa. (saya sampe susah memilih perumpamaannya ==’) Karena tau ini klise yang cuma buat mancing agar kita berpikir ini adalah klise, maka kaki saya sampai harus ga bisa diem demi nahan penasaran.

Sampailah mereka di rumah kayu di tengah hutan, yang kadang ga konsisten dengan penerangan lampu dan lilinnya. Dari sini terimalah kenyataan untuk horornya yang setengah setengah. Saya mulai ketawain diri sendiri dan semakin menikmati jalan cerita. Setting akan berganti ganti dari rumah kayu di tengah hutan dan kantor dengan banyak komputer canggih di entah-dimana. Semakin banyak pergantian setting itu, saya sudah mulai menyisihkan genre horor dan menggantinya dengan

..sci-fi. Dan komedi.

Namun, tidak sesederhana Scary Movie yang selalu terburu-buru mencampur semua adegan horor, sungguh The Cabin In The Woods ini memiliki plot langka. Saya jadi ingin memeluk sutradaranya (juga Chris Hemsworth sekalian).

Sampailah kelima orang ini pada ruang bawah tanah dengan banyak barang dan boneka seram. Kalau sampai ada mata boneka yang kedip disini atau mainan yang muter muter sendiri, sudahlah. Emang klisenya kebanyakan.

Tapi tidak.

Resek nih sutradaranya x)

Salah satu membuka buku harian dan gara gara dia lancang baca kalimat latin yang ada disana, maka bangkitlah zombi zombi dari dalam tanah. Huwo..

Apakah ini nanti akan jadi seperti Zombiland? Atau I’m Legend ?

Selanjutnya bisa ditebak, karena benar satu persatu orang mati berdarah darah dibacok oleh zombi. Pembantaiannya kalem. Satirnya dapet. Ga lebai dan ga konyol. Cuma yang jadi zombi cewe ini emang yang paling serem penampakannya.

Tinggalah satu cewe yang-sudah-ditebak-memang-lakon-sing-menang-keri ini, sedang susah payah keluar dari mobil van yang tenggelam di danau. Adegan seperti ini selalu berhasil bikin deg degan. Pasti ada aja tangan yang tetiba nyeret kaki. Tapi ternyata enggak.

Asem.

Ini sudah berulang kalinya saya ditipu karena ingin sok melanjutkan keklisean adegan.

Sementara itu di ruangan dengan banyak layar komputer besar, sejumlah orang berbaju necis sedang merayakan perayaan. Kontras dengan pemandangan seorang cewe yang setelah berhasil menuju daratan langsung bertemu zombi dengan alat bajak sawah (atau apapun itu senjatanya).

Masihkah menebak ini adalah film tentang zombi? Kenyataanya cerita ini mirip dengan (Taraa..) The Hunger Games! Memang cerita tentang ‘pembunuhan terencana’ yang disaksikan dan dinikmati orang banyak sebagai live reality show ini yang bikin saya bilang mirip. The Hunger Games sendiri cukup gagal menyenangkan saya. Entah siapa yang nyontek duluan, tapi The Tournament lebih berusaha terlihat ‘jelas’ jalan ceritanya. Bukan, saya bukannya bilang ga suka. Karena The Cabin In The Woods ga selempeng itu aja.

Perayaan tidak berlangsung lama. Setelah seseorang menerima telepon dan menyadari bahwa timnya melakukan kesalahan besar.

Apalagi ini..

Giliran saya menerka serius, ternyata kembali satu klise dimunculkan.

Saat hampir saja zombi membunuh cewe itu, seseorang datang dan berhasil menyelamatkannya. Ternyata masih ada lagi yang belum mati. Tinggalah kedua orang ini melanjutkan pelarian, dan tidak bertele tele mereka menemukan jalan yang menghubungkan rumah kayu dan hutan mereka pada sebuah… lift?

Tergelaklah saya di adegan ini. Seseorang rupanya berusaha menggambarkan ‘neraka’ pada suatu tempat yang modern. Selama berjalan horizontal dan vertikal di lift, dua lakon yang tersisa ini bertemu berupa rupa setan yang disekap dalam kotak kaca masing masing. Sekilas digambarkan bahwa ternyata bukan lift yang mereka tumpangi, tetapi juga kotak kaca yang sama dengan ‘penjara’ setan setan tadi.

Apalagi inii….

List tebakan ending cerita di kepala saya jadi bertambah lagi.

Singkat cerita keduanya tahu bahwa mereka sedang menjadi persembahan untuk dewa, kalau tidak dewa akan murka dan bumi terancam bencana besar.

Kampret emang.

Sungguh. Saya banyak tegelak dan kagum disaat bersamaan menyimak film ini. Namun begitu, adegan sangat banyak, hingga harus dipadatkan dan beberapa terkesan menggantung sekali. Semua yang pada awalnya tidak masuk akal menjadi mudah diterima saat mendekati klimaks. Lalu endingnya? Haha.. ini ending yang biasanya menjadi favorit saya.

*peluk peluk Drew Goddard*

 

 

 

Advertisements