untitled

by astridirma

Barusan saya seperti tidak sedang ada di kursi depan mobil yang 6 hari dalam seminggu selalu mengantar jemput saya dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Buku cantik yang saya dapat 4 hari lalu di ulang tahun saya, baru saya telanjangi dari plastiknya semalam. Mata saya terlalu malas untuk melahapnya langsung seketika itu. Akhirnya cuma saya keloni di pinggir bantal.

Pagi tadi setelah menjawab sms dan whatsapp yang bahkan tidak bisa saya baca sebelum saya duduk di dalam mobil, saya buka lagi halaman pertamanya. Biasanya saya hanya akan memaksa tidur daripada menikmati pemandangan macet selama hampir satu jam. Memang, seorang penulis hanya berhasil bila hasil karyanya telah mengurangi fungsi panca indera. Seharusnya saya sedang mendengarkan radio yang terus terusan menambah panik pengendara karena berita mecet dan kecelakaannya, sambil menahan lapar karena semalam melewatkan makan malam, dan memaksa mata terpejam walaupun segar bugar.

Saya sadar waktu mobil telah keluar dari jalan tol, karena mau tidak mau merasakan tikungan ke kanan kemudian ke kiri, lalu muncul satu persatu sekelebat sepeda motor di ujung mata saya. Yang saya tidak sadar waktu itu, saya telah ada di halaman 45 buku ini. Pasti saya melewatkan macet tadi. Baru setelah mobil berhenti di teras kantor dan melihat jam di dashboard yang menunjukkan waktu 5 menit lebih awal dari biasanya kami sampai, saya menyadari lagi hal lain. Memang klise, tapi ketika membaca cerita, kita sedang masuk di dimensi lain, dimana 10 menit di alam nyata adalah setengah sampai satu jam di sana.

Saya keluar dari Tan de Bakker, tempat tinggal Pak Hadi, dan meninggalkan sementara cerita Tansen untuk kembali dinikmati nanti di perjalanan pulang*. Ah, selamat Sabtu pagi, kantor.

Posting singkat dan terburu buru, diketik langsung saat berhadapan dengan PC kantor pagi pagi sambil sarapan bubur ayam

*Madre, dalam Madre, Dee Lestari.

Advertisements