Nanti Saja

by astridirma

Aku ingin mengecat merah pintu rumah. Di samping tembok dan lantainya yang putih bersih, kupikir kamu pun akan setuju. Lalu aku gantungkan pot dengan tanaman rambat yang berdaun kecil tapi selalu hijau, yang punya sulur sepanjang tangan, yang berbunga merah muda kecil berkelopak lucu. Nanti saja aku cari namanya. Di sebelah pintu merah nanti, aku gantungkan nomor rumah besar besar. Sebuah talenan kayu yang akan kugambari dengan corat coret bunga berbentuk angka. Kalaupun memang tidak terlalu terbaca, biar. Yang penting aku suka. Kupikir kamu juga suka.

Aku ingin menggantung beberapa frame segi empat asimetris di bordes tangga. Kamu boleh memilih foto mana yang akan punya tahtanya di sana. Aku ingin tersenyum sebentar setiap kali lewat dan melihat gambar gambar lawas yang tergantung nanti. Memikirkan lagi lucu lucunya kita saat sebelum selucu ini. Mengingat ingat lagi lucu lucu apa yang sudah kita lakukan dan akankah kita ulang atau tidak. Kamu boleh memilih warna anak tangganya. Ingin secoklat kayu atau abu abu batu. Alih alih railing, aku ingin membuat rak di sisi pegangannya. Buku bukumu dan milikku harus punya tempat sedikit istimewa.

Aku ingin sofa besar warna jingga, atau ungu, atau tosca. Lalu bantu aku membetulkan lipatan korden warna senada di jendela kaca di belakangnya. Kita bisa berlama lama membaca, melihat berita, bertukar cerita, apupun sambil tertawa tawa berdua, atau bertiga, berempat, berlima. Sebut saja ruang keluarga atau ruang makan atau ruang seterika atau ruang tidur siang. Aku pikir kamu pun akan suka tanpa peduli apa namanya.

Itu dulu saja. Sepakat tidak?

Advertisements