Draft Satu

by astridirma

Sandaran kursimu bekas keringat, sekarang basah karena rambutmu habis keramas. Di sudut meja, kopi dingin lupa disentuh. Meraciknya adalah keharusan sedang lupa meminumnya itu manusiawi, katamu. Di sebelahnya, bungkus snack kesukaanku tegeletak lemas berisi sisa remah-remah dan udara. Kepalamu miring ke kiri. Katamu begitu biar isi otak kananmu dicerna baik di otak kiri. Hingga perpaduannya bisa keluar lewat jari-jari yang menari.

Pemutar lagu digital yang menyalak di headset telinga kanan. Hanya sebelah dan malas kau pusingkan. Biar saja telingan kiri terjaga bila ada seseorang yang mengetuk pintu, atau sesuatu yang merayap di balik bahu. Sengaja dipilih lagu yang benar-benar menyalak seperti anjing menyapa tamu majikan. Tidak peduli apa liriknya, karena kutebak, kamu sedang menulis syairnya. Mencoba menulis katamu. Dengan waktu sebagai satu satunya guru.

Diam diam kau jatuh cinta pada suara keyboard usang saat menjadi alas jari-jarimu. Tombol backspace di atas kanan itu mata kuncinya. Tentang apa yang sudah hampir ditulis lalu dihapus -nyariskeeksisannya. Jari jari seperti ibu yang mengandung. Sedang kata-katamu adalah janin dengan tanda baca sebagai nyawanya. Melayang dan terjun bebas di atas keyboard. Menjejak satu haruf menjadi kata, kata dengan spasi menjadi kalimat lalu paragraf. Sepersekian detik terlintas ragu, lalu urung. Jari telunjuk mengapung tepat di atas backspace lagi, lalu urung. Begitu terus sampai pundakmu lelah.

Tepat setengah jam sebelum tengah malam, sebuah file disimpan dengan nama yang lagi lagi sama: Draft Satu.docx

Advertisements