Awal Mula

by astridirma

DiciptakanNya satu ruang di kepala, dimana kesenangan dan kesakitan bercampur satu atap, tidur bersama seperti satu keluarga. Tempat bagaimana kita menerjemahkan cinta yang menjelmakan rupa menjadi bahasa yang dibaca tanpa koma, melupakan pentingnya membunuh bakteri dalam suhu didih sembilan puluh sembilan koma sekian derajat, lalu ditelan mentah mentah. Saat itu gravitasi telah menipu respon syaraf hingga menjadikan jatuh yang dinikmati otak dan hati saja.

Muncul akhirnya, satu rasa yang diberi definisi sejuta arti lengkap dengan metafora dan diksi. Sebuah ingin yang menyebut dirinya mimpi, yang berkuasa akan hati, menancapkan bendera jajahan di amygdala terlalu dini. Kemudian banyak dari kita tertawa tawa, bercanda membawa rindu ikut serta. Sedang tetap di masing masing mereka, rasa sakitnya seperti tertusuk jarum di bantalan kursi, dua atau tiga. Karena entah hubungan apa secara biologis juga medis antara pantat dan kepala.

Cuaca hari itu menawarkan diri menjadi saksi. Tentang kabar yang tak sempat dijelaskan lewat hujan yang memendam dendam pada malam paling sunyi. Duduklah di bawah atapmu sambil menerka sedikit apa yang dirahasiakan oleh waktu. Karena kali ini bukan tentang tiba-tiba yang mengetuk tidak sopan, dan benar bila waktu telah berbaik hati, mendekatkan kita berkali kali.

Emosi telah menjadikan sistem limbik ini aktif, hingga mengesampingkan kortex serebri yang mengawal kerasionalan mengambil sebagian tahta di kepala. Bahwa tubuhmu, bicaramu, diammu sudah menjejali hipotalamus otakku. Memaksaku memperhatikan semua gerak dan ucap, merekam tiap pertemuan mata dengan mata. Hingga di lingkaran ini, garis imajiner yang kubangun sendiri, hanya kamu yang berdiri di sana.

Advertisements