Firasat

by astridirma

Sekali dua kali angin benar-benar hanya meniupkan udara; campuran oksigen dan teman dekatnya di tabel periodik kimia, bukan namamu. Namun, aku yakin mereka kadang meniupkannya di kali ketiga, keempat, atau lima di ujung telingaku. Hanya saja aku tidak lagi dengar. Seolah benar sesuatu ini bisa berbisik, tidak sekedar meniup sepoi. Tentang apa yang alam hendak katakan, aku pernah bertanya, tapi koloni rumput ini tidak tahu, sekalipun aku lihat mereka bergoyang tidak henti. Ketika para penyair memaksa syairnya untuk menuliskan angin sebagai pembawa pesan, yang aku rasakan kali ini mereka membawa ribuan debu, dimana beberapa butir memilih berhenti di sudut mataku.

Sekali dua kali awan benar-benar membentuk awan, gumpalan permen kapas manis yang dijilat jilat malaikat, bukan wajahmu. Namun, aku yakin sesuatu itu benar benar pernah menyerupai bentuk hidung, jidat atau dagu yang mirip kamu. Hanya saja aku tidak sedang mendongak ke atas melihat lihat. Tentang apa yang dilukiskan pada langit, pun burung tidak mampu membaca. Lagipula sejak kapan burung bisa membaca. Aku sudah tidak paham dengan para penulis puisi ketika mereka menulismu sedang duduk di atas awan. Aku sangat khawatir. Kamu tentu perlu parasut biar tidak jatuh.

Sekali dua kali bulan sabit benar benar hanya melengkungkan bentuk bumi. Tahu kan, bulan sabit terbentuk karena posisi bumi yang menghalagi sebagian cahaya matahari ke bulan. Iya, dan bukan senyummu. Namun, yah, aku rasa senyummu kadang memang secantik itu. Aku pernah memandangnya lama dan bulan tersenyum balik padaku, hingga awan cemburu dan menyelimuti seluruh pendarnya. Kalau pelukis menambah bola mata cantik di atas senyum bulan, kadangkala akupun mengangguk angguk setuju.

Ketika banyak yang memetaforakan alam, mensubsitusikan dengan kehadiranmu, disitulah rasanya benar bahwa rindu sesakit itu. Sakit yang hanya didiagnosa dokter sebagai kurang makan dan tidur, atau terlalu banyak makan dan tidur. Residu atas reaksi pertemuan dua senyawa yang memiliki chemistry nya sendiri. Akibat dari hati turun ke hati, mengendap lama sebelum pergi mencuri hati lagi. Ketika rindu yang seperti itu akhirnya mendatangi, aku mungkin setuju pada semua penyair ini. Tapi tetap, aku masih perlu parasut. Sekedar jaga-jaga. 

Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra, kutahu pasti kemanakan ku bermuara. Semoga ada waktu..

Sayangku, kupercaya alampun berbahasa. Ada makna dibalik semua pertanda. Rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduliku terus berlari…

(Firasat – Dee Lestari)

Thank you, Gilang~

Advertisements