Untuk Hari Ini

by astridirma

Teruntuk aku,

Kupikir aku bisa memberimu kejutan dengan mengirimimu surat, tapi aku rasa kamu sudah tahu karena bagaimanapun kamu juga yang menulisnya. Walaupun begitu, selamat. Selamat mendapat surat dari dirimu. Aku sudah mengingat ingat kapan terakhir kamu dapat surat, selain surel kerjaan dan promosi belanjaan, dan hasilnya… aku mengantuk. Entah sudah lama sekali mungkin saat tugas bahasa Indonesia sekolah dasar.

Surat ini aku tulis dua hari sebelum hari ini, jadi kuharap kamu sudah agak sedikit lupa. Agar lebih meyakinkan, coba bersandarlah pada tempat dimana saat ini kamu duduk, lalu perhatikan kalimat berikut baik baik,

dan setelah membaca beberapa kata berikut

kamu akan melupakan apa yang pernah kamu tulis dalam surat ini

tepat setelah hitungan ketiga

satu, dua, tiga.

. . . .

Hai.

Apa kabar diriku?

Sudah tiga hari berturut turut aku kehujanan, tetapi aku tidak takut kamu flu. Tebakanku pasti benar, bahwa saat ini hidung atau kepalamu baik baik saja. Dari kecil musim flu memang jarang sekali ngefek di badan, yang akhirnya jadi sebab mengurangi kekompakan dalam ekosistem. Aku dan kamu dianggap kebal penyakit. Padahal mereka tidak tahu, aku pernah merasakan sakit yang teramat. Kamu juga. Sakit perut. Kamu ingat?

Saat itu rasanya sudah dekat sekali dengan kematian. Walaupun tidak sopan menyebut nama Tuhan dalam toilet, tapi tetap kamu lakukan juga. Sambil meremas remas perut, tanpa tahu ada efeknya tidak, keringat sebesar buah anggur mulai bercucuran. 5 menit… 10 menit… 15 menit… Rasanya sudah seperti tahunan saja. Sejenak persoalan aku lupakan. Kamu juga pasti sama. Bagaimana mau mengingat persoalan, mengingat salah makan apa saja aku dan kamu tidak bisa. Akhirnya persoalan kecil tentang pentingnya mengingat ingat itu harus kita ingat sebelum hal hal seperti ini terjadi. Namun, bila berhasil mengingatnya pun, aku tidak tahu apa gunanya kemudian di dalam toilet. Mengutuki makanan yang sudah masuk perut? Pantas saja mereka berkecamuk. Pasti karena tak tahan diberi kutukan. Ini lingkarang setan. Seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Karena kabarmu baik baik saja, aku bersyukur. Paling tidak apa yang kumakan atau kulakukan setelah menulis ini, tidak membuat diri sendiri sakit. Maksudku berkirim surat sebenarnya untuk memastikan itu. Juga sedikit ingin tahu tentang bagaimana masa depanku. Benarkah tidak ada lonjakan drastis seperti jarum angka di timbangan berat badan. Jarum yang selalu bikin aku dan kamu senewen, entah sampai pada kamu di waktu yang mana. Sudahlah jangan khawatir, banyak perempuan yang ingin kurus sampai harus diet mati matian. Sedangkan kamu cuma butuh jutaan semangat untuk kembali olahraga.

Maaf ya, sampai hari ini aku malas sekali olahraga. Lagipula ban sepeda gembos depan belakang, dan kalau sore lebih sering hujan. Jadi kuserahkan tugas mulia ini padamu. Jangan melulu menghabiskan waktu di depan buku, kertas gambar atau clash of clan mu. (kamu pasti sudah upgrade di town hall level 7. Yey!)

Hal yang paling penting baru akan aku tulis disini. Jadilah dirimu sendiri, karena aku hanya dirimu di masaku. Masa lalumu. Semoga kamu dan kamu kamu yang lain di masa depan menjadi lebih baik sebaik virus influenza yang jarang sekali sudi hinggap di tubuh kita. Sehat sehatlah, aku.

Selamat tinggal,

Kamu.

Advertisements