Kepada Namamu

by astridirma

Kepada namamu,

Aku tidak sangka akan memberi kabar di hari ini. Bahwa aku baik, sebaik yang kamu harapkan. Aku sehat, sesehat yang kamu doakan. Aku bahagia, lebih dari yang pernah kamu khawatirkan. Tidak di dua kalinya aku membuat kepalaku menjadi bianglala yang tidak berputar. Tidak di dua kalinya aku mengelilingi sumbu komedi putarku seorang diri. Kamu sendiri bagaimana? Aku bisa saja balik bertanya.

Aku dan kamu pernah cukup sebagai dua perahu yang sama sama mencari pelabuhan untuk tinggal. Sebuah pembuktian bahwa aku tidak akan kemana dan bahwa salah satu kita masih digenggam Tuhan dalam tanganNya. Katamu, tangan Tuhan tidak akan pernah jauh untuk menjagaku dan kamu tetap utuh; karenanya namamu menjadi penutup doaku. Kala itu.

Berdua kita boleh bangga karena merelakan adalah perkara mudah. Sebab yang disebut janji hanya duri yang menyakiti dahannya sendiri. Tidak nampak sedang melindungi kelopaknya, malah menghabisi daun daun hingga gugur terlalu dini. Sebab aku pernah meyakini tidak pernah ada selamanya, persis seperti tidak pernah ada masa yang selalu sama.

Lalu boleh saja kamu pecahkan sekarang, bahwa tangan Tuhan menggenggam seluruh galaksi. Aku bisa saja ada di bumi manapun. Pun sama halnya denganmu. Sampai disini dugaan kita benar. Pembuktian kita tidak sia sia.

Terima kasih atas basa basi yang telah dihidangkan. Aku mencicipi appetizer yang belum pernah sama sejak beranda tawa kita dibuat ramai oleh banyak orang. Terima kasih atas pertemuan pertemuan yang belum pernah kita datangi, tapi telah kita amini.

Semoga kamu sehat, dan sampaikan salamku padanya, yang dipanggil dengan namamu juga.

Advertisements