catatan pinggir meja

Category: uncategorized

/me·nan·ti/ (v)

(2014)

Tulisan ini, amatiran rindu yang digurui sepi

Narasi setengah jadi yang ditulis rindu

dengan tangan penuh mimpi

Pada lembar pertama yang bertanya kabar

mengantar perkenalan

Pada pigura kita pertama dengan kepalaku di sudut telingamu

Lewat basah yang disampaikan hujan

Lewat helai yang dibawa pucuk pucuk dahan

Apa kabar, tuan

sudahkah kita saling mengenal

Pada ikrar yang mulut ini ingin segera katakan

Janji Tuhan yang dibungkus indah lewat senyummu

Diisyaratkan senja yang kunikmati sendiri

Sampai kedua kita mulai menghitung hari

*KBGN

:01.17

Anak lelaki Aphrodite berjingkat menemuiku diam diam. Dengan kasar mencabut kembali panahnya, meninggalkan luka yang menganga di hati dan kepala yang tak kasat mata. Selanjutnya aku terbangun dengan mimpi paling buruk; sebuah kemudi komedi putar lepas dari engselnya, menghantamku keras hingga aku terlempar mencium tanah.

Aku melirik jam dinding yang bersikeras menunjukan masih di tengah malam, lalu kembali tidur dengan firasat yang enggan aku iyakan; perasaan buruk adalah bencana kecil hati manusia.

Semoga benar hanya Cupid yang tidak sopan dan plin plan. Bukan kamu atau hatiku yang jadi korban.

Firasat

Sekali dua kali angin benar-benar hanya meniupkan udara; campuran oksigen dan teman dekatnya di tabel periodik kimia, bukan namamu. Namun, aku yakin mereka kadang meniupkannya di kali ketiga, keempat, atau lima di ujung telingaku. Hanya saja aku tidak lagi dengar. Seolah benar sesuatu ini bisa berbisik, tidak sekedar meniup sepoi. Tentang apa yang alam hendak katakan, aku pernah bertanya, tapi koloni rumput ini tidak tahu, sekalipun aku lihat mereka bergoyang tidak henti. Ketika para penyair memaksa syairnya untuk menuliskan angin sebagai pembawa pesan, yang aku rasakan kali ini mereka membawa ribuan debu, dimana beberapa butir memilih berhenti di sudut mataku.

Sekali dua kali awan benar-benar membentuk awan, gumpalan permen kapas manis yang dijilat jilat malaikat, bukan wajahmu. Namun, aku yakin sesuatu itu benar benar pernah menyerupai bentuk hidung, jidat atau dagu yang mirip kamu. Hanya saja aku tidak sedang mendongak ke atas melihat lihat. Tentang apa yang dilukiskan pada langit, pun burung tidak mampu membaca. Lagipula sejak kapan burung bisa membaca. Aku sudah tidak paham dengan para penulis puisi ketika mereka menulismu sedang duduk di atas awan. Aku sangat khawatir. Kamu tentu perlu parasut biar tidak jatuh.

Sekali dua kali bulan sabit benar benar hanya melengkungkan bentuk bumi. Tahu kan, bulan sabit terbentuk karena posisi bumi yang menghalagi sebagian cahaya matahari ke bulan. Iya, dan bukan senyummu. Namun, yah, aku rasa senyummu kadang memang secantik itu. Aku pernah memandangnya lama dan bulan tersenyum balik padaku, hingga awan cemburu dan menyelimuti seluruh pendarnya. Kalau pelukis menambah bola mata cantik di atas senyum bulan, kadangkala akupun mengangguk angguk setuju.

Ketika banyak yang memetaforakan alam, mensubsitusikan dengan kehadiranmu, disitulah rasanya benar bahwa rindu sesakit itu. Sakit yang hanya didiagnosa dokter sebagai kurang makan dan tidur, atau terlalu banyak makan dan tidur. Residu atas reaksi pertemuan dua senyawa yang memiliki chemistry nya sendiri. Akibat dari hati turun ke hati, mengendap lama sebelum pergi mencuri hati lagi. Ketika rindu yang seperti itu akhirnya mendatangi, aku mungkin setuju pada semua penyair ini. Tapi tetap, aku masih perlu parasut. Sekedar jaga-jaga. 

Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra, kutahu pasti kemanakan ku bermuara. Semoga ada waktu..

Sayangku, kupercaya alampun berbahasa. Ada makna dibalik semua pertanda. Rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduliku terus berlari…

(Firasat – Dee Lestari)

Thank you, Gilang~

Awal Mula

DiciptakanNya satu ruang di kepala, dimana kesenangan dan kesakitan bercampur satu atap, tidur bersama seperti satu keluarga. Tempat bagaimana kita menerjemahkan cinta yang menjelmakan rupa menjadi bahasa yang dibaca tanpa koma, melupakan pentingnya membunuh bakteri dalam suhu didih sembilan puluh sembilan koma sekian derajat, lalu ditelan mentah mentah. Saat itu gravitasi telah menipu respon syaraf hingga menjadikan jatuh yang dinikmati otak dan hati saja.

Muncul akhirnya, satu rasa yang diberi definisi sejuta arti lengkap dengan metafora dan diksi. Sebuah ingin yang menyebut dirinya mimpi, yang berkuasa akan hati, menancapkan bendera jajahan di amygdala terlalu dini. Kemudian banyak dari kita tertawa tawa, bercanda membawa rindu ikut serta. Sedang tetap di masing masing mereka, rasa sakitnya seperti tertusuk jarum di bantalan kursi, dua atau tiga. Karena entah hubungan apa secara biologis juga medis antara pantat dan kepala.

Cuaca hari itu menawarkan diri menjadi saksi. Tentang kabar yang tak sempat dijelaskan lewat hujan yang memendam dendam pada malam paling sunyi. Duduklah di bawah atapmu sambil menerka sedikit apa yang dirahasiakan oleh waktu. Karena kali ini bukan tentang tiba-tiba yang mengetuk tidak sopan, dan benar bila waktu telah berbaik hati, mendekatkan kita berkali kali.

Emosi telah menjadikan sistem limbik ini aktif, hingga mengesampingkan kortex serebri yang mengawal kerasionalan mengambil sebagian tahta di kepala. Bahwa tubuhmu, bicaramu, diammu sudah menjejali hipotalamus otakku. Memaksaku memperhatikan semua gerak dan ucap, merekam tiap pertemuan mata dengan mata. Hingga di lingkaran ini, garis imajiner yang kubangun sendiri, hanya kamu yang berdiri di sana.

Draft Satu

Sandaran kursimu bekas keringat, sekarang basah karena rambutmu habis keramas. Di sudut meja, kopi dingin lupa disentuh. Meraciknya adalah keharusan sedang lupa meminumnya itu manusiawi, katamu. Di sebelahnya, bungkus snack kesukaanku tegeletak lemas berisi sisa remah-remah dan udara. Kepalamu miring ke kiri. Katamu begitu biar isi otak kananmu dicerna baik di otak kiri. Hingga perpaduannya bisa keluar lewat jari-jari yang menari.

Pemutar lagu digital yang menyalak di headset telinga kanan. Hanya sebelah dan malas kau pusingkan. Biar saja telingan kiri terjaga bila ada seseorang yang mengetuk pintu, atau sesuatu yang merayap di balik bahu. Sengaja dipilih lagu yang benar-benar menyalak seperti anjing menyapa tamu majikan. Tidak peduli apa liriknya, karena kutebak, kamu sedang menulis syairnya. Mencoba menulis katamu. Dengan waktu sebagai satu satunya guru.

Diam diam kau jatuh cinta pada suara keyboard usang saat menjadi alas jari-jarimu. Tombol backspace di atas kanan itu mata kuncinya. Tentang apa yang sudah hampir ditulis lalu dihapus -nyariskeeksisannya. Jari jari seperti ibu yang mengandung. Sedang kata-katamu adalah janin dengan tanda baca sebagai nyawanya. Melayang dan terjun bebas di atas keyboard. Menjejak satu haruf menjadi kata, kata dengan spasi menjadi kalimat lalu paragraf. Sepersekian detik terlintas ragu, lalu urung. Jari telunjuk mengapung tepat di atas backspace lagi, lalu urung. Begitu terus sampai pundakmu lelah.

Tepat setengah jam sebelum tengah malam, sebuah file disimpan dengan nama yang lagi lagi sama: Draft Satu.docx

Nanti Saja

Aku ingin mengecat merah pintu rumah. Di samping tembok dan lantainya yang putih bersih, kupikir kamu pun akan setuju. Lalu aku gantungkan pot dengan tanaman rambat yang berdaun kecil tapi selalu hijau, yang punya sulur sepanjang tangan, yang berbunga merah muda kecil berkelopak lucu. Nanti saja aku cari namanya. Di sebelah pintu merah nanti, aku gantungkan nomor rumah besar besar. Sebuah talenan kayu yang akan kugambari dengan corat coret bunga berbentuk angka. Kalaupun memang tidak terlalu terbaca, biar. Yang penting aku suka. Kupikir kamu juga suka.

Aku ingin menggantung beberapa frame segi empat asimetris di bordes tangga. Kamu boleh memilih foto mana yang akan punya tahtanya di sana. Aku ingin tersenyum sebentar setiap kali lewat dan melihat gambar gambar lawas yang tergantung nanti. Memikirkan lagi lucu lucunya kita saat sebelum selucu ini. Mengingat ingat lagi lucu lucu apa yang sudah kita lakukan dan akankah kita ulang atau tidak. Kamu boleh memilih warna anak tangganya. Ingin secoklat kayu atau abu abu batu. Alih alih railing, aku ingin membuat rak di sisi pegangannya. Buku bukumu dan milikku harus punya tempat sedikit istimewa.

Aku ingin sofa besar warna jingga, atau ungu, atau tosca. Lalu bantu aku membetulkan lipatan korden warna senada di jendela kaca di belakangnya. Kita bisa berlama lama membaca, melihat berita, bertukar cerita, apupun sambil tertawa tawa berdua, atau bertiga, berempat, berlima. Sebut saja ruang keluarga atau ruang makan atau ruang seterika atau ruang tidur siang. Aku pikir kamu pun akan suka tanpa peduli apa namanya.

Itu dulu saja. Sepakat tidak?

Awan. ber·a·wan: diliputi awan

Tidak pernah saya biasa saja waktu menatap awan. Sesuatu yang minimal ada di ketinggian 2000 meter, tapi terlihat seperti menggantung di depan muka. Sungguh Tuhan Maha Random dengan segala keindahanNya. Menciptakan air sebagai sumber hidup yang dibekukan dalam wujud kristal kristal cantik dan diutusNya membentuk beberapa koloni yang menggantung di atmosfer.

Pada saat cuaca cerah, mentari sumringah membagi sinarnya dalam jutaan spektrum warna. Atmosfer kewalahan dengan kuatnya gelombang kebiruan, hingga lantas menelan seluruhnya. Kemudian langit terlihat berwarna sama. Dengan gagahnya bergumpal gumpal awan dalam koloni besar dan kecil membentuk siluet hewan, benda mati hingga rupa kekasih. Berjajar jajar, bertumpuk tumpuk, saling tindih, melayang, pecah dan tersenyum. Lebih tepatnya memantulkan senyum bumi, yang bertahun tahun mencintainya diam diam. Hanya mampu memandang dari kejauhan, tanpa tahu bahwa awan memiliki perasaan yang sama. Dipeluknya bumi siang dan malam, tidak rela kulitnya dibakar matahari yang kadang kadang kejam. Awan dan bumi adalah dua dari ratus ribuan yang patuhnya dipuji Tuhan. Cinta keduanya berbalas dengan air mata yang disebut manusia hujan. Kalau sudah menangis, bumi membelai wajah awan dengan uap uap air sungai dan lautnya. Hingga sampai kapanpun keduanya tidak merasa telah dipisahkan pencipta mereka.

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya… (An Nuur: 43)

Saya bisa berjam jam memanjakan mata dengan melihat awan. Entah ia yang cantik karena langit atau sebaliknya. Bumi mengenal langit sebagai nampan segala gas dan udara, ibu dan rumah bagi troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, ionosfer, dan eksosfer. Namun, awan menceritakan bahwa langit adalah kanvas tak bertepi, tempat Tuhan melukis dan menulis. Yang mengagumkan dari persinggungan otak kiri dan kanan adalah bahwa manusia mengiyakan keduanya. Walau sebagian bersikeras menyebut langit sebagai atap rumah mereka dan tempat menggantung angan bagi sebagian yang lain.

Tuhan Yang Maha Sibuk melukisnya setiap jam, setiap hari. Dari warna pekat, putih, kebiruan, merah muda, jingga hingga kembali temaram. Atas dasar itu, semua pengaduk warna di kanvas mereka masing masing, yakin bahwa hijau dan semua warna daun pohon tidak akan minder berdamping dengan seluruh warna langit. Pohon pohon berdiri tegak, menjulang pongah dengan kaki yang mengakar di tanah, enggan beranjak. Mahkotanya disisir angin dalam background langit di segala cuaca.

Awan yang baik hati. Kali ini saya memandangi koloni besar di atas saya berdiri. Apa yang sedang gumpalan kapas itu lakukan. Apakah upacara penghormatan pada langit yang lagi lagi sedang dilukis, atau saling bergosip dan membuang buang senyum pada bumi mereka yang tampan ini. Awan awan yang baik hati. Walaupun rupanya bumi juga mencintai matahari, tidak berkeberatan saling berbagi.

untitled

Barusan saya seperti tidak sedang ada di kursi depan mobil yang 6 hari dalam seminggu selalu mengantar jemput saya dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Buku cantik yang saya dapat 4 hari lalu di ulang tahun saya, baru saya telanjangi dari plastiknya semalam. Mata saya terlalu malas untuk melahapnya langsung seketika itu. Akhirnya cuma saya keloni di pinggir bantal.

Pagi tadi setelah menjawab sms dan whatsapp yang bahkan tidak bisa saya baca sebelum saya duduk di dalam mobil, saya buka lagi halaman pertamanya. Biasanya saya hanya akan memaksa tidur daripada menikmati pemandangan macet selama hampir satu jam. Memang, seorang penulis hanya berhasil bila hasil karyanya telah mengurangi fungsi panca indera. Seharusnya saya sedang mendengarkan radio yang terus terusan menambah panik pengendara karena berita mecet dan kecelakaannya, sambil menahan lapar karena semalam melewatkan makan malam, dan memaksa mata terpejam walaupun segar bugar.

Saya sadar waktu mobil telah keluar dari jalan tol, karena mau tidak mau merasakan tikungan ke kanan kemudian ke kiri, lalu muncul satu persatu sekelebat sepeda motor di ujung mata saya. Yang saya tidak sadar waktu itu, saya telah ada di halaman 45 buku ini. Pasti saya melewatkan macet tadi. Baru setelah mobil berhenti di teras kantor dan melihat jam di dashboard yang menunjukkan waktu 5 menit lebih awal dari biasanya kami sampai, saya menyadari lagi hal lain. Memang klise, tapi ketika membaca cerita, kita sedang masuk di dimensi lain, dimana 10 menit di alam nyata adalah setengah sampai satu jam di sana.

Saya keluar dari Tan de Bakker, tempat tinggal Pak Hadi, dan meninggalkan sementara cerita Tansen untuk kembali dinikmati nanti di perjalanan pulang*. Ah, selamat Sabtu pagi, kantor.

Posting singkat dan terburu buru, diketik langsung saat berhadapan dengan PC kantor pagi pagi sambil sarapan bubur ayam

*Madre, dalam Madre, Dee Lestari.

sudah ada

‘Dapet undangan tuh, si B nikah minggu depan’

Sms singkat temen saya tengah hari, yang langsung saya bales dengan singkat pula:

‘waaahh… :D’

Enggak, saya ga galau habis itu. Mainstream banget sih. Saya justru ingat Bhineka Tunggal Ika (kurang nasionalis apa coba). Jadi kalau ga salah itu artinya walaupun berbeda beda, tetap satu juga. Kalau dibalik kurang lebih jadi seperti ini: Walaupun lahirnya barengan tahunnya tapi nikahnya berbeda beda. (Iya, ga kurang tapi lebihnya banyak. Trims)

Jadi satu persatu temen sepermainan saya sudah menikah sekarang. Yang dulu kita belajar itung itungan bareng, les IPA bareng, main ke sawah bareng. Temen SD saya itu ngabarin kalo dia mau nikah 3 hari lagi, di malem malem tepat saya udah setengah merem. Lalu temen SMP saya, yang dulu barengan latihan pramuka, baris berbaris, kemah.. sudah nikah juga. Juga temen sekelas saya SMA, yang pacaran dari SMP sama pacarnya (yamasa sama pacar orang) setelah putus nyambung berapa kali, akhirnya nikah juga :’) Ga ketinggalan temen-temen kuliah, yang nikah sama temen sejurusan atau yang ternyata dapet kakak senior.

Saya ikut terharu. Cuma sedih, karena  saya ga bisa hadir di beberapa resepsinya.

Itu yang sudah menikah. Yang sebentar lagi menyusul nikah tambah banyak lagi. Walaupun sekarang LDRan sama pacar masing masing. Cukup saya dipamerin lewat twitter, tumblr atau facebook. Tapi enggak, saya ga galau. (Kalimat barusan diketik dengan banyak tekanan).

 ‘Mbak sudah nikah?’

Suatu saat ada yang tanya gitu, yang ga saya jawab tapi cuma cengengesan.

‘Tapi calon sudah ada kan?’

Kali ini saya tambah cengengesan.

Akhirnya ‘galau’ jadi trending topik dimana mana. Semisal selebritis, di Indonesia dia sudah melebihi ketenaran Syahrini bahkan sudah go internesyenel duluan sebelum Agnezmo.

Saya ga punya pacar. Saya juga ga punya gebetan. Tapi saya punya jodoh kok.

Jodoh saya sudah ditentukan sebelum saya bisa ngomong banyak atau itung itungan atau nulis blog seperti sekarang. Jodoh saya sudah tertulis namanya bahkan sebelum saya bisa mengeja nama saya sendiri. Saya punya jodoh. Cuma saja saya belum ketemu orangnya.

a nice dream (part 2)

Buku sebagai media baca yang paling umum akan terus bertambah sejalan dengan ilmu-ilmu dan informasi yang terus terbaharui. Membaca merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat terutama bagi pengembangan sumber daya manusia. Membaca juga merupakan bentuk rekreasi yang simple dan bisa dilakukan siapa saja hampir kapan dan dimana saja. Kondisi minat baca di Surakarta dapat disebabkan karena minat baca masyarakat rendah dan sarana yang tidak memadai. Oleh karena itu Surakarta membutuhkan wadah untuk menfasilitasi dan menumbuhkan minat baca masyarakat melalui sarana rekreatif untuk menarik perhatian dan sarana lain untuk menciptakan budaya membaca membaca.

Kecenderungan masyarkat kota yang senang dengan hal-hal yang baru dan diluar kebiasaan dapat menjadi faktor penarik dalam Pusat Buku ini. Pusat Buku akan dapat mengalihkan perhatian rekreasi masyarakat yang telah lama stuck hanya di sekitar mall dan tempat-tempat nongkrong lainnya dengan mengajak masyarakat untuk mulai kembali mencintai buku, sehingga dapat mengisi waktu luang dan tujuan rekreasinya lebih positif dan edukatif.

Secara natural, manusia akan beradaptasi dengan iklim lingkungannya, begitu juga yang akan diterapkan pada wadah rekreasi baca ini. Salah satu pertimbangan adalah membaca dan bentuk rekreasi yang berkaitan, membutuhkan kondisi nyaman, yang dapat dicapai dengan mendekatkan aktivitas tersebut pada alam. Disamping itu, perencanaan dan perancangan yang berdasar pada iklim dapat bermanfaat untuk kenyamanan pengguna dan penghematan energi.

BAB 1, di salah satu bagian di paragrafnya.
Sudah Maret. Saya kudu ekstra kejar setoran.